Sabtu, 02 Juli 2011

Bekalku

Bekalku

oleh Nur Adi Septanto pada 04 Juni 2011 jam 22:51
Malam ini langit tiba-tiba meneteskan rintik gerimis. Padahal sejak pagi hingga siang hampir tak terlihat gumpalan mendung. Siang yang terik mengharuskan saya membawa segelas air tawar ke gedung belakang "GB", istilah yang disematkan santri putri untuk aula Pesantren Persis Putri. Meski sejatinya telah diresmikan sejak 2009 gedung itu bernama Aula A. Hassan, namun lidah turun-temurun sudah kadung menikmati istilah Ge-Be. Ala kulli hal, enjoy aja.

Mudah-mudahan ini kesempatan yang baik untuk menuangkan sebagian ide saya. Khususnya untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang sebentar lagi dalam 'hitungan jari' - (pinjam update status NherRy Rhakita dua hari yang lalu) - hendak hijrah ke mana arah.

Jeda sore saya sempat menyelesaikan sejumlah agenda. Di sela kesibukan sore di rumah saya sempatkan mengedit narasi singkat. Saya masih berharap beberapa hari ke depan untuk yakin bisa membuat sesuatu yang bermakna. Saya ingin mengingatkan diri saya untuk melakukan usaha terbaik semata-mata karena Allah SWT. Powernya lebih dahsyat. Saya menduga bahwa di dalam jiwa yang lemah ini pasti ada sisipan tujuan yang rendah (duniawi) yang bisa mengganggu niat tulus karena-Nya. Maka perlu diingatkan selalu.

_______________
Itu baru mukaddimah
_______________

Sahabat-sahabat terbaik saya. Sabar dan bersyukurlah. Apa yang telah terjadi dalam proses pendidikan selalu berhadapan dengan angka-angka. Akhir dari sebuah penilaian adalah angka-angka keramat yang mungkin membahagiakan dan di pihak lain menyengsarakan. Kita tidak alergi dengan angka. Karena angka adalah simbol utnuk mewakili suatu keadaan atau yang lainnya. Angka juga bermanfaat untuk kepentingan ukuran jarak, berat, nilai, dan sebagainya.

Namun angka juga bisa mendatangkan kekejaman yang menyakitkan ketika sebuah proses pendidikan yang begitu banyak pilar penopangnya tiba-tiba diruntuhkan dengan satu angka keramat saja. Angka-angka yang tidak lebih dari simbol untuk mewakili suatu keadaan berubah menjadi palu godam yang menghancurkan proses yang telah lama dibangun. Meruntuhkan pilar semangat dan motivasi jiwa.

Mungkin ini diakibatkan oleh sejumlah sudut pandang yang tidak syumul alias komprehensif. Mendorong kemajuan selangkah tapi menarik mundur tujuh langkah. Tujuh ini bisa berarti tujuh beneran, bisa juga lebih!. Ini sangat menyakitkan. Ibarat pakaian tentara dengan motif kamuflasenya, seolah benar, ternyata salah. Seolah dedaunan rimbun, ternyata sekumpulan serdadu lengkap dengan amunisinya.

Mungkin personifikasinya terlalu jauh. tapi saya yakin ada benang merah yang dapat ditarik dengan ujung lainnya. Sekali lagi, bahwa paradigma pendidikan santri sebagai objek pendidikan perlu dikoreksi dengan bijak. Santrikah namanya, murid, pelajar, siswa, atau apalah namanya adalah subyek pendidikan. Mereka para pelaku pendidikan yang siap menerima segenap rangsangan, eksperien, dan keilmuan yang baik.

Lalu kemudian terjadi apa yang dinilai gagal oleh sebagian besar orang, tentu banyak unsur yang berperan di dalamnya. Boleh jadi unsur-unsur itu justru didominasi oleh para pendidik itu sendiri. Pendidik yang tak lagi mampu menghadirkan pengajaran yang utuh. Pendidik yang belum bisa memberikan suri teladan. Atau pendidik yang tidak gemar membaca, menambah wawasan, menerima pendapat orang lain, tidak egois, dan sederet sikap-sikap lainnya. Lalu muncullah si pendidik yang superior. Semua mesti sama dengan jalan berpikirnya. Semua tunduk dalam ruang berpikirnya. Apa memang demikian?
(a solution please!) so, comment please!

Jangan terlalu sedih jika hari ini angka-angka yang ada di lembaran hasil tes selalu mirip seekor bebek. Angka menyakitkan itu bukan kebenaran nyata. Ibarat orang yang mau mencapai seberang sungai kadang ia terperosok berulang-ulang di bibir sungai. Yang terpienting adalah sekali lagi lakukan usaha terbaik karena Allah SWT. Jangan menduakan niat dengan selain-Nya.

Kuatkan jiwa.
Untuk sahabat terbaik saya. Yakin bahwa Allah SWT pasti menolong kita sepanjang kita menjadi para penolong agama-Nya.

Rahasiakan keluh kesahmu. Agar senyummu semakin berarti!
Thanks to:
Sahabat-sahabat terbaik saya dan orang-orang yang selalu menghargai arti pentingnya pendidikan sebagai sebuah proses bukan pencapaian hasil. Saya sudah menulis nama-nama di baris ini, tapi kemudian saya hapus kembali. Karena tak mungkin saya menyebut satu demi satu. "Terlalu manis untuk dilupakan", mengambil sebaris lirik lagu yang dipopulerkan grup band slank di awal dekade 90-an..
Semoga Allah SWT mengumpulkan kita ddalam rangka kebaikan. Dan memisahkan kita pun untuk meraih kebaikan yang lebih agung.
Mestinya tulisan ini tak berakhir disini.
Tapi bagaimana mungkin. Dan memang harus diakhiri.

Faidza Faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab

Sahabatmu
adi
· · Bagikan · Hapus

Yaa Rabb

Yaa Rabb ...

oleh Nur Adi Septanto pada 28 Juni 2011 jam 12:39
Pelajaran berharga dari sebuah kekhilafan. Seringnya kita melakukan kesalahan demi kesalahan lalu tanpa kendali kesalahan itu terulang lagi. Mungkin ada benang merah yang menghubungkan antara kebiasaan serba instant dan perilaku yang mudah mengulang kesalahan.

Sebut saja itiu adalah kebodohan. Mungkin juga ketololan. Semestinya kesalahan yang sama tidak akan terjadi jika kita mau belajar dari pengalaman. Kedewasaan kita diukur sedalam kita menyelami apa yang terjadi. Semakin kita berusaha belajar mendapatkan sesuatu yang berharga, semakin kecil rasanya ilmu yang ada.

Kita diingatkan oleh kesusahan. Kitra juga diingatkan dengan adanya bencana. Kita pula sering kali baru sadar kalau musibah, kerusakan, kepayahan, keadaan sulit, dan sederet ketidaksenangan menimpa diri kita. Jadilah kita orang yang sibuk meratapi keadaan.

Mestinya kehadiran ujian kesusahan sama nilainya saat senang yang kita raih. Susah disikapi dengan penuh kesabaran. Senang kita syukuri.
Pada saatnya kualitas diri akan teruji dengan dinamika hidup ini. Yang tidak boleh dilupakan adalah sandaran kita cuma satu, dan hanya satu, yaitu semua dalam rangka ibadah mengharap ridha ALLAH SWT. Cukuplah yang demikian itu menjadi penguat segala beban dan kepenatan yang kita hadapi saban hari.

Untuk sahabat-sahabat terbaik saya:

Semoga Allah SWT menurunkan keberkahan di jalan yang kita tekuni dalam kebaikan menuju ridha-Nya. Amien.
· · Bagikan · Hapus

Jumat, 01 Juli 2011

EEE ... SUNATAN MASSAL

Mendengar istilah sunatan massal sebagian masyarakat menganggap mengganggu mental anak. Karena ketika proses sunat berlangsung, anak-anak yang mengantri mendengar jerit tangis teman-temannya. Bagi urutan awal mungkin tidak terlalu masalah. Tapi, urutan-urutan selanjutnya bisa dibuat ngeri dan membayangkan yang tidak-tidak.
Kejadian seperti ini saya alami betul. Saat Ukkaasyah, putra pertama saya mengikuti acara Khitanan Massal yang diselenggarakan Pengurus Cabang Persistri Bangil bekerja sama dengan Klinik Ar-Rahmah 29 Juni 2011 lalu. Dari 20 anak yang 'burungnya' dieksekusi hanya ada beberapa yang cukup kuat tidak meronta-ronta. Sebagian berteriak, menangis, bahkan minta ijin dengan berbagai alasan.
Sebetulnya kegiatan positif ini perlu ditingkatkan kualitasnya. Maklum, proyek perdana ini dikawal para ibu yang juga memiliki sejumlah kesibukan. Saya hanya ingin mengucapkan 'jazakumullah' atas usaha dan kerelaan waktu, tenaga, pikiran, dan lainnya untuk suksesnya acara dimaksud.
Secara tidak langsung kegiatan itu memberikan alasan sejumlah keluarga kami berkumpul saling berbagi, silaturahim, dan berbakti kepada orang tua. Alhamdulillah. Dari sebuah kegiatan muncul kebaikan-kebaikan yang tak pernah terencana. Semua itu tentunya atas rahmat dan taufiq Allah SWT.
Yaa Rabb semoga kebaikan-kebaikan itu terus mengalir di tengah-tengah kami semua amien.

Mencoba Bernyanyi (Lagi)

Beberapa waktu lalu saya baru serius menelusuri 'Maher Zain'. Tidak terlalu tajam, hanya mengunduh salah satu video klip lagunya yang bertitel 'Insha Allah'. Setelah beberapa hari saya diamkan di piranti penyimpan data mini lalu saya konversi dalam bentuk mp3.
Barulah saya putar berulang-ulang di ponsel. Saat membuat adonan saya putar lagu itu. Ketika bersantai bersama keluarga kadang juga saya perdengarkan. Saat menulis ini pun, alunan musik bergenre pop tetap menemani saya. Berikut petikan lirik lagu itu yang saya copy paste dari situs http://www.islamiclyrics.net/maher-zain/insha-allah/.

Insha Allah

By: Maher Zain

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Everytime you commit one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray

OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way x2
Insyaallah x3
Insya Allah we’ll find the way 

Semoga bermanfaat. 
Wassalam

Senin, 27 Juni 2011

AKRONIM KREATIF

SENYUMANGAT
Suatu ketika di dinding facebook ada update status begini bunyinya: "senyumangat", posting seorang teman. Dalam benak saya wah hebat betul menggabungkan dua keadaan yang selalu dibutuhkan. Agar kita semua selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Karena senyum juga bernilai ibadah. Dan semangat tetap terpelihara. Dengan terjaganya semangat kondisi sesulit apapun tetap bersemangat dan menyemangati lingkungan sekitarnya. Mudah-mudahan tafsiran saya diamini sang penyusun akronim ini.
SEMANGGI
Akronim ini saya temukan dalam bentuk gambar format jpg ketika googling tentang motivasi. Diantara gambar yang keluar adalah gambar daun semanggi dan tulisannya 'semanggi' (semangat tinggi). Kreativitas akronim seperti ini mestinya lebih semarak lagi. Tentunya semangat tinggi yang diperlukan harus bersandar pada Dzat Yang Maha Tinggi. Karena semangat setinggi apapun jika niatnya bukan mencari ridha Allah SWT akan sia-sia dalam timbangan akhirat. Supaya 'semanggi'-nya bermakna, jadikan alasannya selalu mengharap ridha Ilahi Rabbi.

Minggu, 26 Juni 2011

BISNIS OPPORTUNITY

Dunia usaha boleh dianggap semakin banyak kompetitor, marak, unik, kreatif, dan begitu menggairahkan. Anggapan itu tentu punya alasan kuat. Lihat saja daftar usaha yang bisa kita jumpai di iklan cetak maupun elektronik. Sejumlah usaha yang ada dapat dikelompokkan menjadi dua klasifikasi berdasar boleh dan tidaknya dijalankan. Ada usaha yang halal dan ada usaha yang haram. Usaha-usaha yang halal begitu banyak dan di depan mata juga ada lapangan usaha yang haram.

Usaha yang haram bagi umat Islam tidak ada pilihan kecuali totalitas meninggalkannya. Bahkan ada kewajiban untuk mencegah, memperingatkan, dan menyetop usaha haram tersebut. Manakah yang kita sanggupi terkait dengan maraknya usaha haram? Minimal kita punya sikap yang jelas. Tidak setuju, berlepas diri, dan berdoa agar Allah SWT mengirimkan kekuatan untuk menghentikannya. Amien.

Saat ini usaha yang kami jalankan jelas tidak termasuk usaha yang haram. Jenis usaha kami adalah menjual produk makanan. Mungkin sebagian akan bertanya, apakah di bahan makanan pembuatnya steril dari zat-zat yang diharamkan? Betul juga pertanyaan itu. Kami sudah siapkan konkretnya. Silakan datang ke dapur kami dan akan kami tunjukkan bahan-bahan pembuat kue kami. Terang Bulan Susu yang kami branding dengan nama Imoet menjadi pilihan jajan sehat yang digemari anak kecil maupun orang dewasa.

Perjalanan kami dalam usaha ini sudah masuk bulan ke-9, terhitung sejak September 2010. Alhamdulillah dengan ijin Allah SWT usaha ini tetap istiqamah kami kerjakan. Pasang surut yang terjadi tetap kakmi jadikan pengalaman berharga. Tidak boleh kami pesimis atau patah semangat. Kiranya Allah SWT tetapkan kata jujur dan istiqamah selalu melekat dalam sanubari kami.

Sebenarnya peluang usaha yang satu ini mudah sekali dijalankan. Asal ya tadi itu, rumus jujur dan istiqamah harus tegak di semua ruang dan waktu. Kami begitu yakin akan janji Allah SWT dengan kemudahan pasca kesusahan. Kebaikan terbalas dengan kebaikan yang makin berlimpah. Kalau toh di dunia ini ukuran materi hanya bisa untuk hidup, dan kami yakin karena memang bukan itu target akhir kami. Target kami bahwa setiap usaha dapat kami jalani sesuai dengan proses yang baik. Kami lakukan dengan usaha terbaik kami. Itu saja. Dan nawaitu kami semua karena Allah SWT, agar Dia memberikan keridhaan kepada kami dan seluruh keluarga.

Maka peluang usaha apapun menjadi lebih bermakna tatkala pelakunya menyandarkan semuanya hanya karena mengharap ridha dan ampunan Allah SWT.

Rabu, 22 Juni 2011

Baiknya Niat Baik

Selangkah meski kecil tindakan kebaikan pasti mendapat feed back kebaikan pula. Sekadar niat saja sudah meraih kemuliaan. Apalagi konsep 'big thing's - start small - act now' menjadi bagian yang terus digerakkan. Jadi makhluk yang selalu melakukan usaha terbaiknya di semua waktu dan tempat. Usaha terbaik itu adalah amal yang ditujukan hanya semata-mata mengharap ridha Allah 'Azza wa Jalla.

Baiknya niat baik semakin dirasakan manfaatnya jika membuahkan kerja nyata. Amal konkret yang terbaik sekali lagi bukan atas pertimbangan kepentingan perut dan di bawah perut semata. Usaha terbaik itu diarahkan hanya karena-Nya. Monggo saja mau mengelola kegiatan sebanyak apa pun yang terpokok adalah niat baik jangan sampai gugur karena anasir rendah dan sesaat.

Mari kita melangkah dalam kebaikan dan melakukannya dengan usaha terbaik. Let's go!