TETAPLAH BERPENGHASILAN, MESKI BUKAN PENGHASILAN TETAP
oleh Nur Adi Septanto pada 27 Oktober 2010 jam 8:31
Pertengahan September 2010 lalu adalah titik kecil sebuah cita-cita mulia, usaha untuk keberkahan semua. Mulailah dengan membuat konsep usaha. Browsing menggunakan hape rilisan smart yang saya beli setahun lalu pun cukup untuk menambah wawasan kewirausahaan. Sampai-sampai komentar istri saya, "Duh, kapan ya umi disayang. Setiap waktu hape selalu bersama ayah. Kapan giliran umi?", katanya dengan sedikit centil. Biasa, seringkali saya mendapat sindiran kala kesibukan kerja dan hobi selalu mendapat perhatian lebih ketimbang keluarga.
Dan setting dingin kadang saya atur sedemikian rupa, supaya tidak terlalu ekstrem kelihatannya. Walhasil, saya terus browsing dan googling. Minta fasilitas elektronik kepada penyedia jasa digital yang super membantu secara teknis. Alhamdulillah beberapa poin penting telah saya dapatkan. Diantaranya adalah, uang yang digunakan untuk usaha tidak boleh dicampur aduk dengan uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Harus ada kejelasan dan ketegasan kita dalam mengelola secara mandiri, kontrol diri yang penting.
Satu hal yang juga menginspirasi saya, ketika saya berkunjung ke rumah Ustadz Muhammad Barid, di dinding ruang tamunya terpampang tulisan Mental Kaya Vs Mental Miskin (kalau salah mohon di ralat Ustadz Barid), yang salah satunya adalah orang mental kaya itu produktif, tidak konsumtif. Itu artinya kagiatannya selalu menghasilkan karya. Terus berkarya dan berkarya. Meski ga masuk golongan karya (hahahaha, partai senior itu). Jadi, informasi di dinding itu turut membuat nyali saya bangkit. Lalu, saya juga ingin membuktikan bahwa kesimpulan teman saya keliru. Dia menyatakan bahwa orang dengan garis tangan yang tidak terhubung, maka ia akan boros dalam membelanjakan uang. Saya yang merasa memiliki garis tangan terbuka so pasti tidak menyederhanakan urusan usaha hanya dijatuhkan oleh bentuk karunia asli dari-Nya. Sangat tidak adil. Kalau yang lahir tanpa tangan? Atau di kemudian hari tangannya harus diamputasi? Dari mana menentukan itu? Jadi itu hanya omongan tak berdasar.
Prinsip kita, Gusti Allah swt pasti akan mengubah nasib seseorang sepanjang ia mau action. Tidak mandeg, diam, bin berkeluh kesah lantaran berkekurangan. Sangat tidak mungkin sebagai hamba Allah swt yang diberi bekal sembarang ada terus cuma duduk manis menunggu emas jatuh dari langit.
Sesaat setelah saving many pages di hape tahan banting itu - beberapa kali Utbah melempar hape smart itu - saya bercerita kepada sang istri tersayang (maaf, yang belum nikah moga iri agar segera menikah). Alkisah, bla-bla-bla. Ringkasnya cerita saya untuk membangun komitmen usaha bersama-sama ayo segera dimulai.
Dream and Action!
To be continued . . .
Dan setting dingin kadang saya atur sedemikian rupa, supaya tidak terlalu ekstrem kelihatannya. Walhasil, saya terus browsing dan googling. Minta fasilitas elektronik kepada penyedia jasa digital yang super membantu secara teknis. Alhamdulillah beberapa poin penting telah saya dapatkan. Diantaranya adalah, uang yang digunakan untuk usaha tidak boleh dicampur aduk dengan uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Harus ada kejelasan dan ketegasan kita dalam mengelola secara mandiri, kontrol diri yang penting.
Satu hal yang juga menginspirasi saya, ketika saya berkunjung ke rumah Ustadz Muhammad Barid, di dinding ruang tamunya terpampang tulisan Mental Kaya Vs Mental Miskin (kalau salah mohon di ralat Ustadz Barid), yang salah satunya adalah orang mental kaya itu produktif, tidak konsumtif. Itu artinya kagiatannya selalu menghasilkan karya. Terus berkarya dan berkarya. Meski ga masuk golongan karya (hahahaha, partai senior itu). Jadi, informasi di dinding itu turut membuat nyali saya bangkit. Lalu, saya juga ingin membuktikan bahwa kesimpulan teman saya keliru. Dia menyatakan bahwa orang dengan garis tangan yang tidak terhubung, maka ia akan boros dalam membelanjakan uang. Saya yang merasa memiliki garis tangan terbuka so pasti tidak menyederhanakan urusan usaha hanya dijatuhkan oleh bentuk karunia asli dari-Nya. Sangat tidak adil. Kalau yang lahir tanpa tangan? Atau di kemudian hari tangannya harus diamputasi? Dari mana menentukan itu? Jadi itu hanya omongan tak berdasar.
Prinsip kita, Gusti Allah swt pasti akan mengubah nasib seseorang sepanjang ia mau action. Tidak mandeg, diam, bin berkeluh kesah lantaran berkekurangan. Sangat tidak mungkin sebagai hamba Allah swt yang diberi bekal sembarang ada terus cuma duduk manis menunggu emas jatuh dari langit.
Sesaat setelah saving many pages di hape tahan banting itu - beberapa kali Utbah melempar hape smart itu - saya bercerita kepada sang istri tersayang (maaf, yang belum nikah moga iri agar segera menikah). Alkisah, bla-bla-bla. Ringkasnya cerita saya untuk membangun komitmen usaha bersama-sama ayo segera dimulai.
Dream and Action!
To be continued . . .
Riena Kriwil Arsiani Usahanya opo to pak? Ksh gambaran yg jelas,lg butuh inspirasi ni27 Oktober 2010 jam 8:43 melalui Facebook Seluler ·
Nur Adi Septanto Bu Lik Rina. Kami sedang merintis usaha bidang Food and Baverages. Satu produk yang sudah dipasarkan adalah Imoet Terang Bulan Susu.27 Oktober 2010 jam 8:55 ·
Abu Ilkiya Saya suka pesan TETAPLAH BERPENGHASILAN, MESKI BUKAN PENGHASILAN TETAP dan saya sedang dalam proses MENGHIDUPKANNYA. Let's act!27 Oktober 2010 jam 9:16 ·
Izuddin Karim usaha skecil apapun.....tekun.....ulet..........nanti jadi .......bukit...bukit...n gunung......wes pasti....sukses...itu taqdir dlm peluang usaha 27 Oktober 2010 jam 9:23 · · 1 orang
Nur Adi SeptantoAmien. Alhamdulillah, produksi hari ini sekitar 450 kue. Kami punya kerja sama dengan bagian pemasaran. Jadi tim kami ada produsen makanan sehat dan bagian pemasaran. dari 450 kue itu kami beri harga 700 rupiah. harga konsumen 1000 rupiah. ...Lihat Selengkapnya27 Oktober 2010 jam 11:25 ·
Riena Kriwil Arsiani Imoet tuh kue to pak,kirain susu segar siap minum. Di aplud donk kue nya27 Oktober 2010 jam 11:39 melalui Facebook Seluler ·
Nur Adi Septanto amien pak dhe. ayo. mumpung diberi kesempatan berkarya. Let's go!27 Oktober 2010 jam 12:00 ·
Hana Widya jadi kuenya kita bikin sndiri ya?ato kita ambil barang jadi?..27 Oktober 2010 jam 12:39 melalui Facebook Seluler ·
Nur Adi Septanto memang panjenengan ada di mana? kalau sekitar bangil dan pasuruan bisa ambil jadi. lha kalau di luar bangil pasuruan, kita harus memutar otak teknis kirimnya.27 Oktober 2010 jam 12:56 ·
Nur Adi Septanto Lho mbak hana di depok ya?
Wah depok mungkin sudah banyak tuh yang membuat terang bulan mini/ unyil. copy paste teknologinya saja. kembangkan di daerah setempat.27 Oktober 2010 jam 12:58 ·
Nur Adi Septanto saya yang baru sebulan ini menekuni produksi terang bulan masih belum apa-apa. Makanya titel saya Nur Adi Septanto, BAA. (Bukan apa-apa dan Belum apa-apa)27 Oktober 2010 jam 13:00 ·
Hana Widya tp aku lum pernah dgr terangbulan imoet di sini..,ini nur adi yg dulu sd muhi bukan?kirain jenengan di bnjr..
..kadang brasa malas memulai sesuatu..yg spertinya blm pasti.
klo bikin sendiri susah ga?perlu alat2 yg modern ga?27 Oktober 2010 jam 13:06 melalui Facebook Seluler ·
Nur Adi Septanto alat2 sangat mudah diitemui di pasar.
kalau yang disebut alat: Wajan atau cetakan kue lumpur atau mirip juga dengan cetakan kue bikang. itu saja intinya. bahan2 sebagaimana sudah saya sebut.27 Oktober 2010 jam 13:10 ·
Ruslan Abd Ganibener2 inspiratif niy. terutama slogan " Mental Kaya vs Mental Miskin" ntu. emang kalo gak memupuk mental kaya kita akan jadi konsumtif. walopun jadi konsumen paling tidak ada usaha untuk tidak konsumtif lebih2 lagi bisa menghasilkan sepert...Lihat Selengkapnya27 Oktober 2010 jam 17:49 ·
Salman Alfarisi ke purwakarta tadz.. :D
kl cod tuh gmn ya, ane blon pernah sih, murah mana bea nya dg kirim biasa?28 Oktober 2010 jam 9:04 ·
Ruslan Abd Gani kalo COD kudu bi dalam jumlah banyak biar jadi murah,hehehehe...28 Oktober 2010 jam 12:30 melalui Facebook Seluler ·


Tidak ada komentar:
Posting Komentar