Belajar Itu Menyenangkan
oleh Nur Adi Septanto pada 04 Mei 2011 jam 22:44
Suasana menyenangkan di kelas punya arti penting. Baik guru maupun siswa sama-sama menikmati suasana belajar dengan nyaman. Daya serap siswa tambah kuat, gurunya makin semangat. Ini baru hebat.
Menciptakan atmosfer belajar yang menyenangkan bukan perkara sulit. Membuat siswa nyaman belajar juga bukan urusan yang mahal. Namun hal ini bisa menjadi sulit dan mahal kalau kita keliru bersikap.
Sulit biasanya karena membayangkan betapa ruwetnya mengelola kelas. Mungkin juga karena kurang percaya diri. Mahalnya peralatan edukatif yang berkualitas membuat guru surut dan pesimis. Seolah tidak bisa bersaing dengan sekolah lain yang ‘mahal-mahal’.
Untuk itulah catatan kecil ini mencoba memberikan alternatif bagaimana cara agar siswa belajar menyenangkan.
Andalah Magnet Terkuat di Kelas
Siapkan diri anda agar selalu menarik untuk diperhatikan. Iklim yang menyenangkan sedang anda rancang untuk kebutuhan pembelajaran. Anda menginginkan suasana fun – senang – dapat dirasakan semua siswa. Untuk mengarah ke sana dalam buku The Learners’ Way Anne Forester dan Margaret Reinhard menekankan pentingnya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan.
Mendatangkan tamu mengejutkan, tokoh, benda aneh, studi lapangan, program spontanitas, penelitian yang diusulkan anak-anak sendiri, diskusi, membaca, menulis, menggambar, merupakan bagian variasi yang perlu diperhatikan. Bermain peran, pementasan boneka jari, wayang, juga bisa menjadi pilihan.
Ruang kelas anda akan hidup, jarang sepi mati. Kebersamaan dan interaksi adalah komponen vital dari iklim menyenangkan. Penemuan, pembelajaran variatif, gaya baru, dan kegairahan mencapai prestasi menuntut ekspresi yang meyakinkan. Dan saatnya anda meyakinkan mereka.
Jika iklim keasyikan tersebut mampu anda hadirkan begitu memasuki ruang kelas yang telah direncanakan dengan baik inilah langkah awal belajar yang efektif. Demikian menurut Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos dalam The Learning Revolution.
Kartu Plus dan Kartu Minus
Agar siswa semakin bersemangat dalam mengikuti pelajaran anda, buatlah kartu plus dan kartu minus. Dua kartu yang berbeda ini dibuat dengan kertas yang cukup keras, agar tahan lama. Siapkan dalam jumlah yang agak banyak.
Kartu plus bisa diberi tulisan dan gambar yang relevan dengan lambang sebuah prestasi. Mungkin gambar bintang dengan warna warni yang cerah. Atau kata-kata ekspresif, seperti “Luar Biasa!”, Hebat!, “Bravo”, “Sukses!”, dan sebagainya. Kartu plus diberikan atas dasar prestasi di kelas. Semakin banyak prestasinya, maka kartu plus yang dikumpulkan siswa yang bersangkutan juga semakin banyak. Di akhir semester anda telah menyiapkan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Sebaliknya kartu minus buatlah dengan warna gelap. Berisi gambar yang tidak jelas atau pesan moral lainnya. Seperti, “Malas pangkal bodoh”, “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah”, dan sebagainya.
Kartu minus diberikan karena tidak disiplin, malas, tidak memperhatikan, mengganggu, cenderung mengabaikan perintah, dan sulit diajak kerjasama. Berikan kepada siswa yang bersangkutan kartu minus itu. Dan mintalah agar selalu di bawa saat pelajaran. Tujuannya agar ia sadar dan waspada untuk tidak mengulangi kesalahannya.
Manfaat kartu plus minus ini juga sebagai alat kompetisi positif. Persaingan yang jujur. Harapannya, kehadiran pelajaran anda pun selalu dinanti. Semangat mengikuti pelajaran juga meningkat. Apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar juga kian aktif.
Tentu kendala-kendala kecil bisa saja muncul. Seperti siswa berkartu minus lupa membawa kartu minusnya. Sobek dan hilang juga bisa menjadi alasan. Dan anda pun dituntut lebih kreatif dalam bersikap. Anda pun memiliki catatan siapa saja yang mendapat kartu plus dan minus. Sehingga arsip yang anda pegang sebagai langakah antisipasi mampu menjadi bukti kuat.
Memecah Kebekuan
Anda ingin suasana di kelas kondusif. Anda juga ingin proses kegiatan belajar mengajar fokus. Tidak banyak kegaduhan. Sementara yang terjadi adalah suasana tegang, kaku, dan kurang akrab. Saatnya anda melakukan ice breaking, yaitu memecah kebekuan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar suasana di kelas lebih cair. Dengan cairnya suasana tentu siswa tidak merasakan adanya tekanan. Kondisi tertekan bisa timbul dari sikap terlampau serius. Akibat pertama adalah siswa takut bertanya. Padahal banyak hal yang belum dipahami dengan baik.
Bagaimana membuat ice breaking? Anda bisa menggunakan yel-yel sederhana. Anda contohkan, jika anda mengatakan, “Apa kabar hari ini?” para siswa diminta menjawab dengan lantang kalimat, “Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!”. Yel-yel tersebut bisa dengan mudah dibuat oleh guru ataupun siswa itu sendiri. Setelah dua-tiga kali menyuarakan yel-yel itu, anda bisa melanjutkan kembali materi pelajaran.
Memecah kebekuan di kelas bisa juga dilakukan dengan aktivitas fisik. Mungkin dengan senam kecil atau sekadar relaksasi berdiri dan duduk kembali. Guru jadi lebih kreatif dalam menyiasati kebekuan di kelas. Atau anda bisa sedikit bercerita perjuangan pahlawan, pejabat, atau orang-orang sukses yang dapat memotivasi siswa.
Mereka telah melakukan dan hasilnya . . .
Di negeri ini mulai banyak yang merasakan pentingnya belajar menyenangkan. Lembaga pemerintahan, swasta, perusahaan, juga semakin perhatian terhadap persoalan sumber daya manusia yang butuh peningkatan. Karena itu tidak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan berani menganggarkan 20 miliar rupiah setahun untuk mendidik karyawannya melalui training yang menyenangkan.
Di negeri ini sudah banyak lembaga yang mencurahkan perhatiannya kepada persoalan ini. Karena itu, bukan persoalan sulit untuk belajar bagaimana belajar. Dan bagaimana pula agar belajar selalu menyenangkan.
Di negara maju, para guru meraih gelar master pendidikan dalam dua semester. Diantara teknik yang mereka terapkan adalah suggestopedia, pemrograman neuro linguistik dan sistem belajar cepat terpadu. Ketiga istilah itu memiliki kesamaan sifat yaitu menyenangkan, cepat, dan memuaskan. Mereka juga selalu menghadirkan relaksasi, aksi, stimulasi, emosi, dan kegembiraan.
Hampir seluruh Sekolah Dasar di Selandia Baru menggunakan teka-teki dan permainan warna yang menyenangkan dalam mempelajari matematika. Dan pakar psikologi pernah membuat kesimpulan penting bahwa untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, maka kita harus melihat, mendengar, dan merasakan.
Menciptakan atmosfer belajar yang menyenangkan bukan perkara sulit. Membuat siswa nyaman belajar juga bukan urusan yang mahal. Namun hal ini bisa menjadi sulit dan mahal kalau kita keliru bersikap.
Sulit biasanya karena membayangkan betapa ruwetnya mengelola kelas. Mungkin juga karena kurang percaya diri. Mahalnya peralatan edukatif yang berkualitas membuat guru surut dan pesimis. Seolah tidak bisa bersaing dengan sekolah lain yang ‘mahal-mahal’.
Untuk itulah catatan kecil ini mencoba memberikan alternatif bagaimana cara agar siswa belajar menyenangkan.
Andalah Magnet Terkuat di Kelas
Siapkan diri anda agar selalu menarik untuk diperhatikan. Iklim yang menyenangkan sedang anda rancang untuk kebutuhan pembelajaran. Anda menginginkan suasana fun – senang – dapat dirasakan semua siswa. Untuk mengarah ke sana dalam buku The Learners’ Way Anne Forester dan Margaret Reinhard menekankan pentingnya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan.
Mendatangkan tamu mengejutkan, tokoh, benda aneh, studi lapangan, program spontanitas, penelitian yang diusulkan anak-anak sendiri, diskusi, membaca, menulis, menggambar, merupakan bagian variasi yang perlu diperhatikan. Bermain peran, pementasan boneka jari, wayang, juga bisa menjadi pilihan.
Ruang kelas anda akan hidup, jarang sepi mati. Kebersamaan dan interaksi adalah komponen vital dari iklim menyenangkan. Penemuan, pembelajaran variatif, gaya baru, dan kegairahan mencapai prestasi menuntut ekspresi yang meyakinkan. Dan saatnya anda meyakinkan mereka.
Jika iklim keasyikan tersebut mampu anda hadirkan begitu memasuki ruang kelas yang telah direncanakan dengan baik inilah langkah awal belajar yang efektif. Demikian menurut Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos dalam The Learning Revolution.
Kartu Plus dan Kartu Minus
Agar siswa semakin bersemangat dalam mengikuti pelajaran anda, buatlah kartu plus dan kartu minus. Dua kartu yang berbeda ini dibuat dengan kertas yang cukup keras, agar tahan lama. Siapkan dalam jumlah yang agak banyak.
Kartu plus bisa diberi tulisan dan gambar yang relevan dengan lambang sebuah prestasi. Mungkin gambar bintang dengan warna warni yang cerah. Atau kata-kata ekspresif, seperti “Luar Biasa!”, Hebat!, “Bravo”, “Sukses!”, dan sebagainya. Kartu plus diberikan atas dasar prestasi di kelas. Semakin banyak prestasinya, maka kartu plus yang dikumpulkan siswa yang bersangkutan juga semakin banyak. Di akhir semester anda telah menyiapkan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Sebaliknya kartu minus buatlah dengan warna gelap. Berisi gambar yang tidak jelas atau pesan moral lainnya. Seperti, “Malas pangkal bodoh”, “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah”, dan sebagainya.
Kartu minus diberikan karena tidak disiplin, malas, tidak memperhatikan, mengganggu, cenderung mengabaikan perintah, dan sulit diajak kerjasama. Berikan kepada siswa yang bersangkutan kartu minus itu. Dan mintalah agar selalu di bawa saat pelajaran. Tujuannya agar ia sadar dan waspada untuk tidak mengulangi kesalahannya.
Manfaat kartu plus minus ini juga sebagai alat kompetisi positif. Persaingan yang jujur. Harapannya, kehadiran pelajaran anda pun selalu dinanti. Semangat mengikuti pelajaran juga meningkat. Apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar juga kian aktif.
Tentu kendala-kendala kecil bisa saja muncul. Seperti siswa berkartu minus lupa membawa kartu minusnya. Sobek dan hilang juga bisa menjadi alasan. Dan anda pun dituntut lebih kreatif dalam bersikap. Anda pun memiliki catatan siapa saja yang mendapat kartu plus dan minus. Sehingga arsip yang anda pegang sebagai langakah antisipasi mampu menjadi bukti kuat.
Memecah Kebekuan
Anda ingin suasana di kelas kondusif. Anda juga ingin proses kegiatan belajar mengajar fokus. Tidak banyak kegaduhan. Sementara yang terjadi adalah suasana tegang, kaku, dan kurang akrab. Saatnya anda melakukan ice breaking, yaitu memecah kebekuan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar suasana di kelas lebih cair. Dengan cairnya suasana tentu siswa tidak merasakan adanya tekanan. Kondisi tertekan bisa timbul dari sikap terlampau serius. Akibat pertama adalah siswa takut bertanya. Padahal banyak hal yang belum dipahami dengan baik.
Bagaimana membuat ice breaking? Anda bisa menggunakan yel-yel sederhana. Anda contohkan, jika anda mengatakan, “Apa kabar hari ini?” para siswa diminta menjawab dengan lantang kalimat, “Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!”. Yel-yel tersebut bisa dengan mudah dibuat oleh guru ataupun siswa itu sendiri. Setelah dua-tiga kali menyuarakan yel-yel itu, anda bisa melanjutkan kembali materi pelajaran.
Memecah kebekuan di kelas bisa juga dilakukan dengan aktivitas fisik. Mungkin dengan senam kecil atau sekadar relaksasi berdiri dan duduk kembali. Guru jadi lebih kreatif dalam menyiasati kebekuan di kelas. Atau anda bisa sedikit bercerita perjuangan pahlawan, pejabat, atau orang-orang sukses yang dapat memotivasi siswa.
Mereka telah melakukan dan hasilnya . . .
Di negeri ini mulai banyak yang merasakan pentingnya belajar menyenangkan. Lembaga pemerintahan, swasta, perusahaan, juga semakin perhatian terhadap persoalan sumber daya manusia yang butuh peningkatan. Karena itu tidak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan berani menganggarkan 20 miliar rupiah setahun untuk mendidik karyawannya melalui training yang menyenangkan.
Di negeri ini sudah banyak lembaga yang mencurahkan perhatiannya kepada persoalan ini. Karena itu, bukan persoalan sulit untuk belajar bagaimana belajar. Dan bagaimana pula agar belajar selalu menyenangkan.
Di negara maju, para guru meraih gelar master pendidikan dalam dua semester. Diantara teknik yang mereka terapkan adalah suggestopedia, pemrograman neuro linguistik dan sistem belajar cepat terpadu. Ketiga istilah itu memiliki kesamaan sifat yaitu menyenangkan, cepat, dan memuaskan. Mereka juga selalu menghadirkan relaksasi, aksi, stimulasi, emosi, dan kegembiraan.
Hampir seluruh Sekolah Dasar di Selandia Baru menggunakan teka-teki dan permainan warna yang menyenangkan dalam mempelajari matematika. Dan pakar psikologi pernah membuat kesimpulan penting bahwa untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, maka kita harus melihat, mendengar, dan merasakan.
Bunda Aben Hazam Subhanallah jazakallah ilmunya... Mb'dida dalam pandangan saya memiliki kelebihan ini, dia guru yang hebat... Sehat-sehatji di'... Ada fbnyakah? Afwan...06 Mei jam 14:12 · · 1 orang
Bunda Aben Hazam Hehehe pak adi ada saja... Buatin dong mb'dida... Salamin ya... Afwan.08 Mei jam 14:36 ·


Tidak ada komentar:
Posting Komentar