Mendengar istilah sunatan massal sebagian masyarakat menganggap mengganggu mental anak. Karena ketika proses sunat berlangsung, anak-anak yang mengantri mendengar jerit tangis teman-temannya. Bagi urutan awal mungkin tidak terlalu masalah. Tapi, urutan-urutan selanjutnya bisa dibuat ngeri dan membayangkan yang tidak-tidak.
Kejadian seperti ini saya alami betul. Saat Ukkaasyah, putra pertama saya mengikuti acara Khitanan Massal yang diselenggarakan Pengurus Cabang Persistri Bangil bekerja sama dengan Klinik Ar-Rahmah 29 Juni 2011 lalu. Dari 20 anak yang 'burungnya' dieksekusi hanya ada beberapa yang cukup kuat tidak meronta-ronta. Sebagian berteriak, menangis, bahkan minta ijin dengan berbagai alasan.
Sebetulnya kegiatan positif ini perlu ditingkatkan kualitasnya. Maklum, proyek perdana ini dikawal para ibu yang juga memiliki sejumlah kesibukan. Saya hanya ingin mengucapkan 'jazakumullah' atas usaha dan kerelaan waktu, tenaga, pikiran, dan lainnya untuk suksesnya acara dimaksud.
Secara tidak langsung kegiatan itu memberikan alasan sejumlah keluarga kami berkumpul saling berbagi, silaturahim, dan berbakti kepada orang tua. Alhamdulillah. Dari sebuah kegiatan muncul kebaikan-kebaikan yang tak pernah terencana. Semua itu tentunya atas rahmat dan taufiq Allah SWT.
Yaa Rabb semoga kebaikan-kebaikan itu terus mengalir di tengah-tengah kami semua amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar