Koneksi Dunia Hati, Pikiran, dan Kenyataan
oleh Nur Adi Septanto pada 15 Mei 2011 jam 16:20
Hubungan dan membangun hubungan begitu indah dijalani. Hari-hari yang berkesan membuat hidup tidak mengenal kata bosan. Seolah bahagia tertawa dan suka cita terus menerus dirasa tak akan sirna. Hati begitu gembira menentukan langkah yang disuka dan sesuai rencana. Begitu menyenangkan hiruk-pikuk yang dijalani seolah tak pernah ada batas dan tepi. Ujung hari ibarat penggalan waktu sejenak yang tak terlalu penting. Karena esok hari masih yakin bertemu hari.
Sekarang ini jantung masih berdegup dengan normal. Tidak ada gangguan yang berarti. Batuk sekadarnya dan hidung tersumbat adalah gangguan ringan yang sering tak terhitung sebagai kondisi sakit. Meski sejatinya mengganggu aktivitas. Saya menghitung sejumlah peristiwa yang sering meluluhkan semangat karena adanya persoalan koneksi yang tidak lancar antara hati, pikiran dan kenyataan.
Sebut saja 'A' misalnya yang menghiasi hari-hari 'B' dengan senyum dan tawa yang ceria. Pada titik tertentu keikhlasan itu lahir untuk sebuah hubungan lillah, karena Allah SWT. Begitu dunia hati terhubung dengan kesalahan niat, pangkal masalah menjadi serius. Hati tidak mampu menerjemahkan arti ketulusan dan nafsu manusiawi. Hubungan yang terbangun dengan koneksi timpang menjadikan sakit dalam hati.
Kenyataan sebuah hubungan antar manusia sering terjadi kesalahan koneksi hati, pikiran, dan kenyataan. Ketiganya sering dijadikan sasaran lemparan amarah yang salah sasaran. Menyudutkan hati yang tak mampu menata hati. Mempersoalkan pikiran yang jauh dari sikap kedewasaan. Memperkeruh suasana karena tak kuasa menerima segala keputusan Tuhan (takdir).
Maka, koneksikan hatimu, pikiranmu, dan kenyataanmu memang semata-mata mengharap ridha-Nya. Setiap hari kau ingatkan jiwa yang sakit itu dengan menghadapkan segala bentuk tujuan karena-Nya. Bukan karena kenikmatan hati, ketenangan jiwa, kesejukan pandangan, atau materi duniawi. Karena sesungguhnya semua bersumber dari keridhaan Allah SWT.
Nikmat hati, sejuk jiwa, tenang usaha, meraih prestasi, mendapat kebaikan, harta yang cukup, keluarga yang tentram, istri shalihah, suami shalih, anak-anak yang berbakti, semua dikarenakan Allah SWT ridha dengan apa yang kita lakukan, dan kita pun ridha dengan segala keputusan-Nya.
Alangkah nikmatnya koneksi dunia hati, pikiran, dan kenyataan . . .
Semoga kau memahami ini . . .
Untuk sahabat-sahabat terbaik saya . . .
Jazakumullah
Faidza faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab
Sekarang ini jantung masih berdegup dengan normal. Tidak ada gangguan yang berarti. Batuk sekadarnya dan hidung tersumbat adalah gangguan ringan yang sering tak terhitung sebagai kondisi sakit. Meski sejatinya mengganggu aktivitas. Saya menghitung sejumlah peristiwa yang sering meluluhkan semangat karena adanya persoalan koneksi yang tidak lancar antara hati, pikiran dan kenyataan.
Sebut saja 'A' misalnya yang menghiasi hari-hari 'B' dengan senyum dan tawa yang ceria. Pada titik tertentu keikhlasan itu lahir untuk sebuah hubungan lillah, karena Allah SWT. Begitu dunia hati terhubung dengan kesalahan niat, pangkal masalah menjadi serius. Hati tidak mampu menerjemahkan arti ketulusan dan nafsu manusiawi. Hubungan yang terbangun dengan koneksi timpang menjadikan sakit dalam hati.
Kenyataan sebuah hubungan antar manusia sering terjadi kesalahan koneksi hati, pikiran, dan kenyataan. Ketiganya sering dijadikan sasaran lemparan amarah yang salah sasaran. Menyudutkan hati yang tak mampu menata hati. Mempersoalkan pikiran yang jauh dari sikap kedewasaan. Memperkeruh suasana karena tak kuasa menerima segala keputusan Tuhan (takdir).
Maka, koneksikan hatimu, pikiranmu, dan kenyataanmu memang semata-mata mengharap ridha-Nya. Setiap hari kau ingatkan jiwa yang sakit itu dengan menghadapkan segala bentuk tujuan karena-Nya. Bukan karena kenikmatan hati, ketenangan jiwa, kesejukan pandangan, atau materi duniawi. Karena sesungguhnya semua bersumber dari keridhaan Allah SWT.
Nikmat hati, sejuk jiwa, tenang usaha, meraih prestasi, mendapat kebaikan, harta yang cukup, keluarga yang tentram, istri shalihah, suami shalih, anak-anak yang berbakti, semua dikarenakan Allah SWT ridha dengan apa yang kita lakukan, dan kita pun ridha dengan segala keputusan-Nya.
Alangkah nikmatnya koneksi dunia hati, pikiran, dan kenyataan . . .
Semoga kau memahami ini . . .
Untuk sahabat-sahabat terbaik saya . . .
Jazakumullah
Faidza faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab
Hayatie Fadhilah El-Haque banyak cara Allah menghibur hati hambaNya dengan mesra..
Salah satunya dari note ust ini...
Terima kasih ya Allah
Jazakallah khairan, ust...:)15 Mei jam 16:24 · · 1 orang
Imam Basuki Wiyaakumul jazaa' ustadz.... memang bila tlah tersambung tiap koneksi yang dimiliki akan semakin memudahkan langkah menapaki berbagai hal yang mendera.... baik itu berupa suka maupun duka.... karena sejatinya semua itu adalah bentuk keridlhan_NYA pada kita dan keridlha_an kita kepada_NYA....bukan begitu?15 Mei jam 16:31 · · 1 orang
Arif de Banjarleste Mas,pak ridho pramono bapake mas topan td pagi meninggal dunia jam 1015 Mei jam 16:40 ·
Nur Adi Septanto Inna lillah wa inna ilaihi roji'un . allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' mad khalahu15 Mei jam 16:50 · · 1 orang
Nur Adi Septanto salam untuk keluarga mas Topan. kalau tidak ada halangan. Matur suwun mas Wiwit infonya.15 Mei jam 16:50 ·
Adam Bakhtiar matur suwon kang buat tag nya feel so inspired by your thought.. Jazakallah...15 Mei jam 21:37 ·


Tidak ada komentar:
Posting Komentar