Hidup dengan berpura-pura
oleh Nur Adi Septanto pada 15 Mei 2011 jam 16:47
Setahu saya, seorang selalu berusaha tampil sempurna di hadapan orang lain. Tak sedikitpun aib dan celanya ingin diketahui orang. Kadang semangat itulah yang membangkitkan energi manusia untuk menghidupkan profil sempurna.
Sayang, setahu saya, sikap itu masih rapuh. Rapuh karena motif yang tidak memiliki akar sandaran yang kokoh. Kerapuhan itu karena ketidakmampuan diri memilih pijakan. Semestinya pijakan itu berawal dari kerelaan mengoreksi kelemahan dan kekurangan.
Angkat dan pisahkan semua kelemahan yang ada. Sisihkan sedikit demi sedikit untuk jangka waktu perbaikan yang kontinyu. Perawatan ringan yang berkala tidak berat dan dijalani dengan penuh kenikmatan. Tidak sporadis, membabi buta, menghalang-halangi diri dengan kebaikan semu.
Sederhananya dalam sebuah kata ‘berpura-pura’ itu berat. Sangat berat. Pura-pura pandai. Ah, bagaimana ketika dihadapkan dengan soal-soal ujian? Pura-pura cinta, padahal tidak ketulungan bencinya. Pura-pura bekerja, tapi mana hasil kerjanya? Pura-pura kenyang. Pasti curi-curi kesempatan untuk mendapat jatah lebih.
Banyak kepura-puraan yang semakin memberatkan beban persoalan. Pura-pura baik. Bingung ketika kedapatan berbuat yang tidak baik. Pura-pura bisa, setengah mati mengusap keringat karena tak mampu menyelesaikan dengan segera. Pura-pura hebat, maka stress berat saat ditunggu dateline untuk sebuah kegiatan. Dan apa manfaat pura-pura? Apa kebaikan dari pura-pura? Jawab saja tidak ada. Kalau toh ada, itu juga kesenangan yang pura-pura, kebaikan yang pura-pura, kemewahan yang pura-pura, kesuksesan, keberhasilan, kepintaran, kehebatan, serta keshalihan yang pura-pura. Karena keliru menyandarkan kesempurnaan.
Sayang, setahu saya, sikap itu masih rapuh. Rapuh karena motif yang tidak memiliki akar sandaran yang kokoh. Kerapuhan itu karena ketidakmampuan diri memilih pijakan. Semestinya pijakan itu berawal dari kerelaan mengoreksi kelemahan dan kekurangan.
Angkat dan pisahkan semua kelemahan yang ada. Sisihkan sedikit demi sedikit untuk jangka waktu perbaikan yang kontinyu. Perawatan ringan yang berkala tidak berat dan dijalani dengan penuh kenikmatan. Tidak sporadis, membabi buta, menghalang-halangi diri dengan kebaikan semu.
Sederhananya dalam sebuah kata ‘berpura-pura’ itu berat. Sangat berat. Pura-pura pandai. Ah, bagaimana ketika dihadapkan dengan soal-soal ujian? Pura-pura cinta, padahal tidak ketulungan bencinya. Pura-pura bekerja, tapi mana hasil kerjanya? Pura-pura kenyang. Pasti curi-curi kesempatan untuk mendapat jatah lebih.
Banyak kepura-puraan yang semakin memberatkan beban persoalan. Pura-pura baik. Bingung ketika kedapatan berbuat yang tidak baik. Pura-pura bisa, setengah mati mengusap keringat karena tak mampu menyelesaikan dengan segera. Pura-pura hebat, maka stress berat saat ditunggu dateline untuk sebuah kegiatan. Dan apa manfaat pura-pura? Apa kebaikan dari pura-pura? Jawab saja tidak ada. Kalau toh ada, itu juga kesenangan yang pura-pura, kebaikan yang pura-pura, kemewahan yang pura-pura, kesuksesan, keberhasilan, kepintaran, kehebatan, serta keshalihan yang pura-pura. Karena keliru menyandarkan kesempurnaan.
Nona Nadhrah Membc n0te ini..
Sy jdi teringat dg kta2 dosen sya..
"jika kau tdak bisa mencintai sesuatu,mka b'pura2lah untk mencintaix..krna tanpa kau sdari p'lahan cinta i2 akan tmbh dalam hatimu"
kl0 yg seperti ini bgaimana ust..??15 Mei jam 16:58 ·
Nur Adi Septanto :) Setahu saya, kebaikan apapun tidak akan abadi jika dilandasi kepura-puraan. Sebenarnya hatinya telah cinta. Meski malu mengatakannya. Kadang keliru memaknai pura-pura dan melangkah dengan hati-hati.15 Mei jam 17:02 · · 1 orang
Nur Adi Septanto Sekiranya dunia ini dipenuhi kepura-puraan.Adakah kita berangkat menuju surga pun dengan iman yang pura-pura. Luar biasa.15 Mei jam 17:05 · · 2 orang
Aris Kurniawan Pura2 menanam padi, akan pura2 memanen padi, kalo surganya juga pura2 lebih bahaya... Sbisa mungkin apa adanya saja.. Sakdermo.. Nerima ing pandum. Urip tenang..15 Mei jam 19:18 · · 1 orang
Nur Adi Septanto @ Kang Aris: Matur Suwun sudah bergabung. Kados pundi kabaripun? Sampun kondur dhateng jakarta? Napa tasih wonten Holland?16 Mei jam 11:32 ·
Nur Adi Septanto Fakhruddin Abdullah sama-sama. ente juga kang yang memberikan pengalaman berharga.17 Mei jam 11:19 ·
Aris Kurniawan alhamdulillah sudah balik ke asal, enak hidup diluar lebih enak di dalam, kbanyakan diluar masuk angin... :P sukses usahanya kang adi..17 Mei jam 13:20 ·





Tidak ada komentar:
Posting Komentar