Sabtu, 02 Juli 2011

Peningkatan Mutu Pendidik, Peserta Didik, dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Pasuruan

Peningkatan Mutu Pendidik, Peserta Didik, dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Pasuruan

oleh Nur Adi Septanto pada 20 Januari 2011 jam 13:25
Peningkatan Mutu Pendidik, Peserta Didik, dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Pasuruan
Oleh: Umar Fanani, BA.

Dari mana kita bertolak? Obyek pendidikan adalah manusia seutuhnya, jasmani maupun rohaninya. Oleh karena itu upaya meningkatkan pendidikan harus berangkat dari jati diri manusia: Siapa manusia itu? Apa peran dan tugasnya dalam  kehidupannya ini? Dan apa sebenarnya target akhir yang didambakan dalam masa tinggal di dunia yang fana ini?
Dari jawaban sejumlah pertanyaan mendasar tersebut, upaya meningkatkan mutu pendidikan bertolak.
Dalam kaitan ini Allah Ta’ala sebagai Sang Khaliq manusia dan alam semesta melalui Al Islam telah menjawab atas sejumlah pertanyaan mendasar di atas dengan jelas dan tuntas.
A.     Hakikat Manusia
Manusia adalah titah (makhluk) Allah SWT yang paling sempurna, jasmani maupun rohaninya (QS. 95: 4). Ia dibekali dengan berbagai potensi untuk menjalani peran dan kewajiban hidupnya (QS. 16: 78).
Di sini pendidikan mempunyai peran penting dalam mengembangkan berbagai potensi yang merupakan karunia Allah SWT.
Setiap anak manusia semenjak lahir telah memiliki potensi untuk beriman kepada Tuhannya (QS. 7: 172). Itulah yang dimaksud fitrah Islami sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (أخرجه البخاري و مسلم)
Artinya: Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, pendidikan mempunyai posisi amat penting agar fitrah Islami itu bisa tumbuh sempurna sehingga anak ketika dewasa kelak menjadi mukmin dan muslim sejati (QS. 30: 30). Tapi sayang, banyak pendidik dewasa ini, khususnya orang tua, mengabaikan hal pokok tersebut.
Setelah anak menginjak dewasa (baligh), Allah SWT mengilhamkan (memberikan karunia) potensi fujur (durhaka) dan potensi taqwa (patuh) kepada Allah SWT (QS. 71: 7-8).
Potensi fujur  yang didominasi syahwat syaithaniyyah harus ditundukkan. Jangan dibiarkan tumbuh berkembang. Ia merupakan sumber kegagalan dan kesengsaraan dunia maupun akhirat. Sementara potensi taqwa yang bersumber pada kekuatan aqidah shahihah (keimanan terhadap Allah SWT) harus dijaga, dipelihara, dan dikembangsuburkan. Ia merupakan kunci keberhasilan dan kebahagiaan dunia akhirat (QS. 91: 9-10).
Dalam konteks ini, menundukkan potensi fujur dan menumbuhkembangkan potensi taqwa, merupakan ruang lingkup pendidikan yang mendasar. Segenap elemen pendidikan mempunyai tugas penting untuk menanamkan aqidah shahihah dan pemahaman keislaman yang bersumber kepada Al Quran dan As Sunnah. Sejak dini usaha ini dilakukan sesuai dengan tahapan usia anak dan secara intensif berkesinambungan untuk sebuah harapan adanya pemahaman yang utuh tidak parsial. Dengan demikian para peserta didik mampu memahami apa yang menjadi tugas dan kewajibannya dalam kehidupan.
Dalam tataran ini, anak didik digugah kesadarannya untuk proaktif memahami, mencintai dan membiasakan diri mengamalkan ajaran-ajaran Islam (QS. 96: 1-5; QS. 92: 5-10). Lingkungan pun khususnya keluarga, harus mendukung (QS. 66: 6). Demikian juga lingkungan sekolah, masyarakat, dan media informasi dan komunikasi (QS. 3: 104, 110). Dalam hal ini tugas pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sangat dominan.   
B.     Tugas dan Peranan Manusia
Sudah sama-sama dimaklumi bahwa tugas kehadiran manusia di planet bumi adalah untuk beribadah hanya kepada Allah SWT (QS. 51: 56) dan sekaligus sebagai khalifah-Nya dalam memakmurkan kehidupan dunia (QS. 2: 30).
Aqidah – sebagai pandangan hidup – harus benar-benar ditanamkan sejak dini kepada putra-putri kita. Ia akan menjadi kompas, penunjuk arah, sekaligus berfungsi sebagai pengendali aktivitas hidupnya, kapan dan dimana pun berada. Menjadi standar nilai untuk mengukur baik atau buruk sesuatu.
Dan inti ibadah adalah menjunjung tinggi segenap petunjuk-Nya,melaksanakan segenap perintah-Nya, dan totalitas menjauhi apapun larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Jadi medan ibadah amat luas, seluas nilai ajaran Islam itu sendiri. Baik terkait dengan persoalan-persoalan hablun minallah maupun hal-hal yang bersinggungan langsung dengan manusia, hablun minannas.
Ikrar pernyataan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah dan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in yang senantiasa diucapkan berulang kali setiap hari harus dipahamkan secara benar dan diwujudkan dalam setiap aktivitas hidupnya. Pada umumnya putra-putri kita tidak memahami secara benar dan mendalam akan pernyataan tersebut sehingga mereka tidak memiliki kesadaran untuk mewujudkannya.
Dalam konteks ini, sekali lagi, keluarga dan sekolah punya peran utama untuk memahamkan kandungan ikrar itu. Artinya, segenap pendidik, baik di rumah maupun di sekolah bekerja sama untuk suksesnya agenda ini.
Lebih dari itu, disamping penguasaan prinsip-prinsip ajaran Islam, putra-putri kita juga dibekali berbagai ilmu pengetahuan agar bisa memainkan perannya sebagai khalifah.
Rasulullah SAW bersabda:
المؤمن القوي خير و أحب إلى الله من المؤمن الضعيف (أخرجه مسلم)
Artinya: Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)
Pengertian kuat mencakup segala jenis kekuatan positif baik jasmaniah maupun rohaniahnya. Kekuatan teknologi maupun ekonomi. Kekuatan teoritis maupun praktis. Kemudian dalam petunjuk lanjutannya Rasulullah SAW menegaskan:
احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز (أخرجه مسلم)
Artinya: Arahkan segenap perhatianmu kepada apa saja yang bermanfaat bagimu dan senantiasa memohon pertolongan (hanya) kepada Allah dan janganlah kamu lemah (tidak bersemangat/ malas). (HR. Muslim)
Agar tidak lemah semangat dan tetap bergairah sikap terbaiknya adalah dengan tetap menjaga power, berjiwa besar dan berprasangka baik – husnu zhan – serta melakukan usaha terbaik.
C.     Target Hidup
Target akhir dari kehidupan dunia ini adalah kebahagiaan akhirat dengan segala keridhaan dan karunia-Nya. Sebaik-baik manusia adalah orang yang beriman dan beramal shalih. Mereka dijamin masuk surga dan memperoleh keridhaan Allah SWT (QS. 98: 7-8).
Dunia dengan segala kekayaan dan keragaman sumber dayanya sebagai karunia Allah hanyalah sebagai jalan dan jembatan menuju kebahagiaan akhirat, bukan sebagai tujuan akhir (QS. 28: 77).
Hanya dengan beriman, beramal shalih, dan saling menasehati dalam menegakkan kebenaran dan bersikap sabar, tabah, dan tegar keberhasilan dan kebahagiaan dunia akhirat dapat digapai atas pertolongan Allah SWT (QS. 103: 1-3; QS. 95: 6).
Problem social tidak akan tuntas jika hanya diselesaikan dengan sudut pandang social. Demikian pula problem pendidikan tidak akan tuntas jika hanya diselesaikan dengan kacamata teori pendidikan.
Maka, aqidah dan pandangan hidup inilah yang harus senantiasa dipahamkan dan ditanamkan kepada putra-putri kita, agar mereka mampu survive dan sanggup berhadapan dengan berbagai pandangan hidup yang menyimpang (sesat dan menyesatkan) seperti materialism, hedonism, secularism, serta berbagai pandangan  hidup lainnya yang kini sedang tumbuh pesat melanda kehidupan.
Hanya dengan bekerja keras, cerdas, berkualitas, dan ikhlas sembari pasrah memohon bantuan dan pertolongan-Nya, Insya Allah, apa yang dicita-citakan, dapat terwujud. Tanpa melewati tahap-tahap tersebut, apa yang diharap hanyalah pepesan kosong, mimpi di siang bolong.
Demikian sumbangan pokok-pokok pikiran yang dapat disampaikan. Meski bersifat normative, semoga bermanfaat adanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar