Sebuah Kisah
oleh Nur Adi Septanto pada 10 April 2011 jam 14:24
Mahasiswa Itu NamanyaSuatu malam saya sedang mengantri di sebuah kedai makanan asian food. Saya memilih menu Cap Cay Kuah dan Mihun Kuah Biasa untuk dibungkus. Malam itu saya ditemani putra pertama saya, Ukkaasyah.
Di kedai itu sudah ada beberapa orang yang sedang menikmati masakan. Mata saya tertuju ke sebuah benda kotak bergambar yang menampilkan sebuah acara sulap. Sesekali pandangan saya beralih ke sekeliling ruangan kedai yang dihiasi beberapa kaligrafi indah.
Beberapa saat terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan kedai. Tak berapa lama kemudian satu demi satu penumpang turun dan masuk ke kedai. Alamak. Sejumlah pemuda dan pemudi langsung mengambil tempat. Bangku kedai menjadi penuh terisi.
Ukkaasyah pun dibuat bengong dengan kehadiran para penerus bangsa itu. Kisah ini menjadi kurang menyenangkan saat gemuruh suara tawa dan canda mereka memenuhi ruang kedai yang tidak terlalu luas. Hati menjadi bergemuruh.
Muda-mudi yang sebagian masih mengenakan almamater kampusnya begitu menikmati persinggahan di kedai itu. Ada yang sibuk dengan handphone ada pula yang asyik menggandeng teman lelakinya. Demikian ‘keruh’ suasana hati saya melihat pergaulan semacam itu. Sementara mereka begitu enjoy menikmati.
Angan saya kemudian mengembara. Teringat kisah nelayan dan sejumlah mahasiswa yang kelimpungan saat melaut bersama. Kisah itu dibawakan Ustadz Hud Abdullah Musa dalam kajian rutin setiap Rabu di Masjid Manarul Islam Bangil akhir 1999 silam.
Mahasiswa lintas jurusan itu memanfaatkan momen libur di tengah Kuliah Kerja Nyata dengan menikmati keindahan laut. “Sudah siap nak?”, tanya Pak Sholeh si nelayan tua. “Wah, pak, dari tadi kita sudah siap! Bapak saja yang kelamaan utak-atik mesin”, seloroh seorang mahasiswa teknik mesin disambut tawa rekan-rekannya.
Perahu perlahan bergerak. Semua penumpang terlibat canda tawa. Hanya si nelayan tua yang memandangi langit seolah memerhatikan gerak-gerik awan yang kian menebal.
“Eh, pak. Bapak sudah usia berapa?”, tanya mahasiswa jurusan statistik. “Saya sudah 60 tahun”, jawabnya ringkas. “Selama ini bapak kerja di laut?”, lanjutnya. “Ya, saya sejak kecil memang sering diajak melaut orang tua. Jadi kemampuan saya, insya Allah di sini”, katanya dengan merendah.
“Bapak tahu internet?”, goda salah seorang dari mereka. “Maaf. Itu apa ya? Saya tidak tahu.”, katanya. “Bapak tau teori trias politica?”, tanya yang lain. Lagi-lagi si bapak menjawab dengan kepolosannya bahwa ia tidak tahu. Pak tua itu menjadi cibiran dan bahan tertawaan para pemuda berotak ‘tanggung’ itu.
Semakin giranglah para mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan teoritis yang diajukan mereka. Mulai rumus phytagoras, fisika, kimia, dan sederet istilah teoritis yang ada di bangku sekolah.
Mulailah problem terjadi. Mesin mati mendadak. Sang mahasiswa jurusan teknik mesin kebingungan. Mesin yang dipelajari di kampus sangat berbeda. Mesin tua ini sudah bongkar pasang dan dengan penggantian onderdil yang seadanya. Diakal-akali sendiri oleh pak tua. Akhirnya sang mahasiswa angkat tangan.
Mesin tetap mati. Terombang-ambing di tengah laut menjadi peristiwa yang tidak lucu bagi mereka. Satu per satu meulai meraskan kepanikan. Hingga puncaknyadebur ombak semakin membesar, angin bertiup cukup kencang, disertai hujan dan petir yang menyambar.
Suasana menjadi mencekam. Wajah mereka pucat padam. Raut mukanya menandakan ketakutan yang begitu mendalam. “Pak, bagaimana ini pak!”, seru salah seorang dari mereka. “Lakukan sesuatu untuk kami pak!”, sambung yang lain. “Ayo pak jangan diam saja!”, ketus seorang yang lain.
Bagi Pak tua, suasana ini sudah seriang ia hadapi. Ia tidak begitu khawatir sepanjang kondisi perahu dapat dikendalikan. Seraya ia berseru, “Mana internetmu! Panggil agar bisa menolong keadaan ini!. Mana trias politica yagn kalian sebut tadi! Mana fisika dan kimia itu! Mana! Panggil mereka semua untuk menyelesaikan masalah ini!”.
Semua terdiam bersamaan dengan diamnya ombak dan angin kencang sesaat itu. Hujan gerimis mengiringi kata-kata pak tua. Dalam diam mereka semua menjadi mengerti. Semua mendapat pelajaran berharga.
Demikian kisah yang dibawakan Ustadz Hud Abdullah Musa 12 tahun yang lalu. Kebetulan dahulu sahabat saya Rahmatullah Marzuki (Sinjai, Sulsel) rajin merekam kajian beliau. Pada tahun 2001 saya menyalinnya dalam bentuk ketikan manual. Dan tahun 2002 saya konversi menjadi format mp3.
Nah, saya khawatir sejumlah mahasiswa yang saya temui disela antrian kedai asian food itu adalah sosok mahasiswa yang diceritakan ustadz Hud AM. Semoga kita terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat. Amien. Semua saja terimakasih. Jazakumullah.
Akhukum fillah.
Adi bin Hadi bin Ali Masyhud
Nur Adi Septanto Ketikan manual setebal 300 halaman itu saya berikan kepada keluarga Almarhum Ustadz Hud AM.10 April jam 14:29 · · 2 orang
Khoirun Nisa' Mudah2an ilmu yang sudah kita pelajari selama ini bisa bermanfaat. Mungkin klo mahasiswa nya bawa iphone, internet bisa bermanfaat untuk cari tahu masalah mesin (sinyal ngaruh ga ya??). kadang teori2 yg didapat di kelas cepet dilupakan klo ga langsung dipraktikkan.11 April jam 11:58 ·



Tidak ada komentar:
Posting Komentar