Bekalku
oleh Nur Adi Septanto pada 04 Juni 2011 jam 22:51
Malam ini langit tiba-tiba meneteskan rintik gerimis. Padahal sejak pagi hingga siang hampir tak terlihat gumpalan mendung. Siang yang terik mengharuskan saya membawa segelas air tawar ke gedung belakang "GB", istilah yang disematkan santri putri untuk aula Pesantren Persis Putri. Meski sejatinya telah diresmikan sejak 2009 gedung itu bernama Aula A. Hassan, namun lidah turun-temurun sudah kadung menikmati istilah Ge-Be. Ala kulli hal, enjoy aja.
Mudah-mudahan ini kesempatan yang baik untuk menuangkan sebagian ide saya. Khususnya untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang sebentar lagi dalam 'hitungan jari' - (pinjam update status NherRy Rhakita dua hari yang lalu) - hendak hijrah ke mana arah.
Jeda sore saya sempat menyelesaikan sejumlah agenda. Di sela kesibukan sore di rumah saya sempatkan mengedit narasi singkat. Saya masih berharap beberapa hari ke depan untuk yakin bisa membuat sesuatu yang bermakna. Saya ingin mengingatkan diri saya untuk melakukan usaha terbaik semata-mata karena Allah SWT. Powernya lebih dahsyat. Saya menduga bahwa di dalam jiwa yang lemah ini pasti ada sisipan tujuan yang rendah (duniawi) yang bisa mengganggu niat tulus karena-Nya. Maka perlu diingatkan selalu.
_______________
Itu baru mukaddimah
_______________
Sahabat-sahabat terbaik saya. Sabar dan bersyukurlah. Apa yang telah terjadi dalam proses pendidikan selalu berhadapan dengan angka-angka. Akhir dari sebuah penilaian adalah angka-angka keramat yang mungkin membahagiakan dan di pihak lain menyengsarakan. Kita tidak alergi dengan angka. Karena angka adalah simbol utnuk mewakili suatu keadaan atau yang lainnya. Angka juga bermanfaat untuk kepentingan ukuran jarak, berat, nilai, dan sebagainya.
Namun angka juga bisa mendatangkan kekejaman yang menyakitkan ketika sebuah proses pendidikan yang begitu banyak pilar penopangnya tiba-tiba diruntuhkan dengan satu angka keramat saja. Angka-angka yang tidak lebih dari simbol untuk mewakili suatu keadaan berubah menjadi palu godam yang menghancurkan proses yang telah lama dibangun. Meruntuhkan pilar semangat dan motivasi jiwa.
Mungkin ini diakibatkan oleh sejumlah sudut pandang yang tidak syumul alias komprehensif. Mendorong kemajuan selangkah tapi menarik mundur tujuh langkah. Tujuh ini bisa berarti tujuh beneran, bisa juga lebih!. Ini sangat menyakitkan. Ibarat pakaian tentara dengan motif kamuflasenya, seolah benar, ternyata salah. Seolah dedaunan rimbun, ternyata sekumpulan serdadu lengkap dengan amunisinya.
Mungkin personifikasinya terlalu jauh. tapi saya yakin ada benang merah yang dapat ditarik dengan ujung lainnya. Sekali lagi, bahwa paradigma pendidikan santri sebagai objek pendidikan perlu dikoreksi dengan bijak. Santrikah namanya, murid, pelajar, siswa, atau apalah namanya adalah subyek pendidikan. Mereka para pelaku pendidikan yang siap menerima segenap rangsangan, eksperien, dan keilmuan yang baik.
Lalu kemudian terjadi apa yang dinilai gagal oleh sebagian besar orang, tentu banyak unsur yang berperan di dalamnya. Boleh jadi unsur-unsur itu justru didominasi oleh para pendidik itu sendiri. Pendidik yang tak lagi mampu menghadirkan pengajaran yang utuh. Pendidik yang belum bisa memberikan suri teladan. Atau pendidik yang tidak gemar membaca, menambah wawasan, menerima pendapat orang lain, tidak egois, dan sederet sikap-sikap lainnya. Lalu muncullah si pendidik yang superior. Semua mesti sama dengan jalan berpikirnya. Semua tunduk dalam ruang berpikirnya. Apa memang demikian?
(a solution please!) so, comment please!
Jangan terlalu sedih jika hari ini angka-angka yang ada di lembaran hasil tes selalu mirip seekor bebek. Angka menyakitkan itu bukan kebenaran nyata. Ibarat orang yang mau mencapai seberang sungai kadang ia terperosok berulang-ulang di bibir sungai. Yang terpienting adalah sekali lagi lakukan usaha terbaik karena Allah SWT. Jangan menduakan niat dengan selain-Nya.
Kuatkan jiwa.
Untuk sahabat terbaik saya. Yakin bahwa Allah SWT pasti menolong kita sepanjang kita menjadi para penolong agama-Nya.
Rahasiakan keluh kesahmu. Agar senyummu semakin berarti!
Thanks to:
Sahabat-sahabat terbaik saya dan orang-orang yang selalu menghargai arti pentingnya pendidikan sebagai sebuah proses bukan pencapaian hasil. Saya sudah menulis nama-nama di baris ini, tapi kemudian saya hapus kembali. Karena tak mungkin saya menyebut satu demi satu. "Terlalu manis untuk dilupakan", mengambil sebaris lirik lagu yang dipopulerkan grup band slank di awal dekade 90-an..
Semoga Allah SWT mengumpulkan kita ddalam rangka kebaikan. Dan memisahkan kita pun untuk meraih kebaikan yang lebih agung.
Mestinya tulisan ini tak berakhir disini.
Tapi bagaimana mungkin. Dan memang harus diakhiri.
Faidza Faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab
Sahabatmu
adi
Mudah-mudahan ini kesempatan yang baik untuk menuangkan sebagian ide saya. Khususnya untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang sebentar lagi dalam 'hitungan jari' - (pinjam update status NherRy Rhakita dua hari yang lalu) - hendak hijrah ke mana arah.
Jeda sore saya sempat menyelesaikan sejumlah agenda. Di sela kesibukan sore di rumah saya sempatkan mengedit narasi singkat. Saya masih berharap beberapa hari ke depan untuk yakin bisa membuat sesuatu yang bermakna. Saya ingin mengingatkan diri saya untuk melakukan usaha terbaik semata-mata karena Allah SWT. Powernya lebih dahsyat. Saya menduga bahwa di dalam jiwa yang lemah ini pasti ada sisipan tujuan yang rendah (duniawi) yang bisa mengganggu niat tulus karena-Nya. Maka perlu diingatkan selalu.
_______________
Itu baru mukaddimah
_______________
Sahabat-sahabat terbaik saya. Sabar dan bersyukurlah. Apa yang telah terjadi dalam proses pendidikan selalu berhadapan dengan angka-angka. Akhir dari sebuah penilaian adalah angka-angka keramat yang mungkin membahagiakan dan di pihak lain menyengsarakan. Kita tidak alergi dengan angka. Karena angka adalah simbol utnuk mewakili suatu keadaan atau yang lainnya. Angka juga bermanfaat untuk kepentingan ukuran jarak, berat, nilai, dan sebagainya.
Namun angka juga bisa mendatangkan kekejaman yang menyakitkan ketika sebuah proses pendidikan yang begitu banyak pilar penopangnya tiba-tiba diruntuhkan dengan satu angka keramat saja. Angka-angka yang tidak lebih dari simbol untuk mewakili suatu keadaan berubah menjadi palu godam yang menghancurkan proses yang telah lama dibangun. Meruntuhkan pilar semangat dan motivasi jiwa.
Mungkin ini diakibatkan oleh sejumlah sudut pandang yang tidak syumul alias komprehensif. Mendorong kemajuan selangkah tapi menarik mundur tujuh langkah. Tujuh ini bisa berarti tujuh beneran, bisa juga lebih!. Ini sangat menyakitkan. Ibarat pakaian tentara dengan motif kamuflasenya, seolah benar, ternyata salah. Seolah dedaunan rimbun, ternyata sekumpulan serdadu lengkap dengan amunisinya.
Mungkin personifikasinya terlalu jauh. tapi saya yakin ada benang merah yang dapat ditarik dengan ujung lainnya. Sekali lagi, bahwa paradigma pendidikan santri sebagai objek pendidikan perlu dikoreksi dengan bijak. Santrikah namanya, murid, pelajar, siswa, atau apalah namanya adalah subyek pendidikan. Mereka para pelaku pendidikan yang siap menerima segenap rangsangan, eksperien, dan keilmuan yang baik.
Lalu kemudian terjadi apa yang dinilai gagal oleh sebagian besar orang, tentu banyak unsur yang berperan di dalamnya. Boleh jadi unsur-unsur itu justru didominasi oleh para pendidik itu sendiri. Pendidik yang tak lagi mampu menghadirkan pengajaran yang utuh. Pendidik yang belum bisa memberikan suri teladan. Atau pendidik yang tidak gemar membaca, menambah wawasan, menerima pendapat orang lain, tidak egois, dan sederet sikap-sikap lainnya. Lalu muncullah si pendidik yang superior. Semua mesti sama dengan jalan berpikirnya. Semua tunduk dalam ruang berpikirnya. Apa memang demikian?
(a solution please!) so, comment please!
Jangan terlalu sedih jika hari ini angka-angka yang ada di lembaran hasil tes selalu mirip seekor bebek. Angka menyakitkan itu bukan kebenaran nyata. Ibarat orang yang mau mencapai seberang sungai kadang ia terperosok berulang-ulang di bibir sungai. Yang terpienting adalah sekali lagi lakukan usaha terbaik karena Allah SWT. Jangan menduakan niat dengan selain-Nya.
Kuatkan jiwa.
Untuk sahabat terbaik saya. Yakin bahwa Allah SWT pasti menolong kita sepanjang kita menjadi para penolong agama-Nya.
Rahasiakan keluh kesahmu. Agar senyummu semakin berarti!
Thanks to:
Sahabat-sahabat terbaik saya dan orang-orang yang selalu menghargai arti pentingnya pendidikan sebagai sebuah proses bukan pencapaian hasil. Saya sudah menulis nama-nama di baris ini, tapi kemudian saya hapus kembali. Karena tak mungkin saya menyebut satu demi satu. "Terlalu manis untuk dilupakan", mengambil sebaris lirik lagu yang dipopulerkan grup band slank di awal dekade 90-an..
Semoga Allah SWT mengumpulkan kita ddalam rangka kebaikan. Dan memisahkan kita pun untuk meraih kebaikan yang lebih agung.
Mestinya tulisan ini tak berakhir disini.
Tapi bagaimana mungkin. Dan memang harus diakhiri.
Faidza Faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab
Sahabatmu
adi






Tidak ada komentar:
Posting Komentar