Semoga Tak Terulang
oleh Nur Adi Septanto pada 03 Juni 2011 jam 13:35
Ujung Mei 2011, Sidoarjo.
Siang begitu terik. Kepenatan beragam tugas cukup menguras energi. Suara pun parau. Berat, serak, dan sedikit mendengkik (entah bahasa mana ini). Yang jelas dua hari itu saya lewati dengan cukup melelahkan.
Menjelang sore saya sudah berada di baiti jannati. Bercengkerama dengan istri terkasih, juga dua jagoan saya yang lucu-lucu. Tiba-tiba ring tone ponsel saya berdering. "Bisa datang lebih cepat? Agar bisa koordinasi dengan baik", kata seseorang di ujung telepon sana. Saya memberikan respon sesegera mungkin agar tidak terlalu membebani pikiran si penelepon.
Sedianya kami sekeluarga bersama-sama akan menghadiri resepsi pernikahan Hefzi dan Azzah. Namun amanah pembawa acara diserahkan ke saya, tentu kehadiran saya harus lebih awal dari para tamu undangan. Itu cerita panjangnya.
Cerita pendeknya, yang ini jangan sampai terulang.
Dengan suara parau itu saya memandu acara. Mempersilakan para undangan untuk bersalaman dengan manten, mendoakan, dan duduk manis. Di sela-sela kehadiran tamu, saya terus cuap-cuap mempersilakan tamu dan mengucapkan selamat datang, ahlan wa sahlan, atau sgeng rawuh.
Nah, kalimat saya begini: "Selamat datang bapak-ibu hadirin tamu undangan. Jazakumullah atas kehadirannya. Dipersilakan untuk mengisi buku tabungan dan masuk ke dalam rumah untuk bersalaman dengan mempelai serta mendoakannya" (padahal maksud saya buku tamu undangan). dueengggg!
That's all bro.
Jazakumullah semua. Buat Zie-zie dan azzah juga Yusfi dan fatimah. barakallah!
Siang begitu terik. Kepenatan beragam tugas cukup menguras energi. Suara pun parau. Berat, serak, dan sedikit mendengkik (entah bahasa mana ini). Yang jelas dua hari itu saya lewati dengan cukup melelahkan.
Menjelang sore saya sudah berada di baiti jannati. Bercengkerama dengan istri terkasih, juga dua jagoan saya yang lucu-lucu. Tiba-tiba ring tone ponsel saya berdering. "Bisa datang lebih cepat? Agar bisa koordinasi dengan baik", kata seseorang di ujung telepon sana. Saya memberikan respon sesegera mungkin agar tidak terlalu membebani pikiran si penelepon.
Sedianya kami sekeluarga bersama-sama akan menghadiri resepsi pernikahan Hefzi dan Azzah. Namun amanah pembawa acara diserahkan ke saya, tentu kehadiran saya harus lebih awal dari para tamu undangan. Itu cerita panjangnya.
Cerita pendeknya, yang ini jangan sampai terulang.
Dengan suara parau itu saya memandu acara. Mempersilakan para undangan untuk bersalaman dengan manten, mendoakan, dan duduk manis. Di sela-sela kehadiran tamu, saya terus cuap-cuap mempersilakan tamu dan mengucapkan selamat datang, ahlan wa sahlan, atau sgeng rawuh.
Nah, kalimat saya begini: "Selamat datang bapak-ibu hadirin tamu undangan. Jazakumullah atas kehadirannya. Dipersilakan untuk mengisi buku tabungan dan masuk ke dalam rumah untuk bersalaman dengan mempelai serta mendoakannya" (padahal maksud saya buku tamu undangan). dueengggg!
That's all bro.
Jazakumullah semua. Buat Zie-zie dan azzah juga Yusfi dan fatimah. barakallah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar