Memaksimalkan Energi Kebaikan
oleh Nur Adi Septanto pada 17 Mei 2011 jam 16:56
Berangkat dari ketaatan atas ketetapan. Semangat menjalankan amanah. Episentrum kemanfaatan diri menjadi pertimbangan dalam tiap kegiatan. Membangkitkan energi kebaikan karena tuntunan dan teladan Rasul pilihan. "Sebaik-baik insan adalah mereka yang memaksimalkan diri memberikan kemanfaatan", sebuah inti hubungan.
Memaksimalkan diri memberikan kemanfaatan adalah episentrum kebaikan yang mengguncang jiwa agar tidak berhenti menggetarkan energi kebaikan. Agar setiap jengkal langkah tidak keliru arah. Saya keliru membuat visualisasi kebaikan dengan emas sebongkah. Emas sebongkah atau berbongkah bahkan segunung pun masih saja keliru. Karena memaksimalkan kebaikan itu bukan digerakkan oleh material duniawi yang kecil. Kecil sekali. Saya ingin menggambarkan kemolekan kebaikan itu disejajarkan dengan keridhaan Dzat Yang Maha Rahman. Itu saja.
Kemegahan dan keelokan apa pun tak kan pernah mengalahkan kekuatan motivasi keridhaan Allah 'Azza wa Jalla. Saya sangat merindukan hal itu. Mencintai karena Allah SWT. Membenci pun demikian. Menghormati, menyayangi, menghargai, membantu, menolong, meringankan beban, meluruskan, berbagi pengalaman, menghindari kedustaan, melangkah menuju kecintaan insan, merindukan seseorang, menemani kekasih sejati, mengubah keadaan yang lemah menjadi kuat, semua karena Allah SWT.
Memaksimalkan kebaikan karena-Nya. Karena memang episentrum kebaikan sekecil apapun akan ditunjukkan Allah SWT, sebagaimana kita maklumi dalam dua ayat terakhir surah Al-Zalzalah.
Untuk sahabat-sahabat terbaik saya.
Jazakumullah sudah memberikan ruang bersama untuk sesuatu yang bisa saya lakukan.
Allahu yubaarik fiyya wa fikum.
Faidza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab.
Memaksimalkan diri memberikan kemanfaatan adalah episentrum kebaikan yang mengguncang jiwa agar tidak berhenti menggetarkan energi kebaikan. Agar setiap jengkal langkah tidak keliru arah. Saya keliru membuat visualisasi kebaikan dengan emas sebongkah. Emas sebongkah atau berbongkah bahkan segunung pun masih saja keliru. Karena memaksimalkan kebaikan itu bukan digerakkan oleh material duniawi yang kecil. Kecil sekali. Saya ingin menggambarkan kemolekan kebaikan itu disejajarkan dengan keridhaan Dzat Yang Maha Rahman. Itu saja.
Kemegahan dan keelokan apa pun tak kan pernah mengalahkan kekuatan motivasi keridhaan Allah 'Azza wa Jalla. Saya sangat merindukan hal itu. Mencintai karena Allah SWT. Membenci pun demikian. Menghormati, menyayangi, menghargai, membantu, menolong, meringankan beban, meluruskan, berbagi pengalaman, menghindari kedustaan, melangkah menuju kecintaan insan, merindukan seseorang, menemani kekasih sejati, mengubah keadaan yang lemah menjadi kuat, semua karena Allah SWT.
Memaksimalkan kebaikan karena-Nya. Karena memang episentrum kebaikan sekecil apapun akan ditunjukkan Allah SWT, sebagaimana kita maklumi dalam dua ayat terakhir surah Al-Zalzalah.
Untuk sahabat-sahabat terbaik saya.
Jazakumullah sudah memberikan ruang bersama untuk sesuatu yang bisa saya lakukan.
Allahu yubaarik fiyya wa fikum.
Faidza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar