Sabtu, 02 Juli 2011

Senyumangat

Senyumangat

oleh Nur Adi Septanto pada 21 Maret 2011 jam 22:31
Alhamdulillah. Wa Ba'd.
"Musibah tidak akan pernah menyurutkan semangat seorang pemenang!", pesan santri dalam sebuah daily quotenya.
Seorang teman di Lampung juga mengatakan "Sahabat, tetap senyumangat!", dalam sebuah pesan dindingnya.
Seorang ayah menasehati anaknya dengan petuah pembangkit energi semangat. "Nak, yang terpenting tetaplah menjaga semangat berkorban. Saat ini pengorbanan menjadi benda asing yang mahal harganya. Jadi siapkanlah jiwa ragamu untuk menjadi berkorban", seraya sang ayah membacakan beberapa ayat al-quran di dekatnya. "Faidza faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab. Tetap jaga semangatmu", pungkasnya.
Allahu Akbar . . . .
· · Bagikan · Hapus

    • Nashir Setiawan Semangat adalah generator yang sanggup melaju ketitik sasaran, tapi jangan pernah lupa bahwa generator juga perlu tenaga yang memadai...jika tidak, senyumangat tak berkembang mulus...malah jadi senyumbat tujuan...hehehe...gudlak n don't break ur spirit...moga imoet jadi guede
      23 Maret jam 17:24 ·
    • Nur Adi Septanto amien. menjadi pemenang itu menyenangkan, dan mencetak pemenang-pemenang baru itu jauh lebih menyenangkan! Sukses PAk dhe. MAtur nuwun supportnya.
      24 Maret jam 13:20 ·
    • Kurt Jelli baik2 aja kan , solae lama dak buka dunia bawah bawah sadar ku
      25 Maret jam 19:57 ·
    • Nur Adi Septanto ok jeli drink....
      25 Maret jam 22:40 ·

Raja Tega

Raja Tega

oleh Nur Adi Septanto pada 25 Maret 2011 jam 23:44
Mungkin akan banyak kekecewaan dalam diri jika tempat sandaran kita adalah manusia. Kita juga akan cepat mengambil sikap emosional ketika komunikasi yang renggang ditanggapi dengan perasaan.Jiwa kita yang rapuh seringkali bergemuruh karena persoalan ketidakkonsistenan diri kita dalam membangun komunikasi. Padahal, seiring problematika yang dihadapi Allah SWT pasti memberikan solusinya.Dan seringnya kita mengalah dengan kelemahan diri kita. Merasa tidak sanggup dan mengungkit kebaikan yang telah dilakukan. Lalu kita berpikir bahwa kebaikan itulah yang memberikan kelapangan, sukses, dan sederet rizki tak terduga.
Itulah diri saya. yang tadi saya sebut kita, sebetulnya lebih tepat saya. Mungkin anda juga tidka berbeda. Hanya saja saya ingin menegaskan bahwa saya dan anda diciptakan memiliki sifat dasar suka berkeluh kesah. Lalu apa yang harus kita perbuat jika sudah telanjur bersikap arogan dengan kenyataan. Saling menyalahkan, tidak jelas, bungkam, berhenti berusaha, bahkan menuduh yang bukan-bukan?
Istighfarlah. Mencurahkan segala uneg-uneg hanya kepada-Nya. Memohonlah dengan tulus. Sikapi segala problematika dengan hati teduh. Jangan tergesa. Musibah yang menimpa adalah kasih sayang-Nya. Agar jiwa makin besar. Agar harapan kian terang. Jangan sampai terombang-ambing oleh perasaan yang kerap limbung dan tidak konsisten. Istiqamahlah dalam kebenaran. Akui kesalahan, bertaubat dan perbaiki ke depan.
Sumabangan hati untuk pembaca setia catatan saya.

Dalam keterpakuan jiwa menempuh bahagia
saudaramu seiman
Adi bin Hadi bin Ali Masyhud
· · Bagikan · Hapus

Bahagianya Musibah Itu Ada

Bahagianya Musibah Itu Ada

oleh Nur Adi Septanto pada 31 Maret 2011 jam 14:46
Adalah semua orang menghendaki kebahagiaan. Namun, seiring perputaran bumi, kadang Allah swt meletakkan kita berada diantara puing-puing musibah. Dan jangan lupa, sering pula Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kita untuk menikmati keindahan dunia.
Sayang, ada sebagian diantara insan yang melupakan kenikmatan itu sesungguhnya ujian dari-Nya dalam bentuk kesenangan. Keliru bersikap, menunda bersyukur dan saat bencana menimpa, rugilah yang dirasakannya.
Terbaik bagi kita agar perkenan Allah swt mengirimkan sejumlah kebaikan dan kemurahan-Nya dari sudut-sudut kecil yang kadang kita tidak pernah menduga dari sanalah bahagia itu hadir.
Perbesarlah ruang di dada kita untuk menerima apa yang memang menjadi bagian kita saat ini di dunia. Tidak perlu was-was dengan 'yang mirip bagian kita' tetapi Allah swt masih menundanya. Jaga dari hal-hal yang cendong kepada syubhat. Parkirlah gagasan kita pada tempat yang nyaman, strategis, aman, dan bebas dari ujub dan riya'. Agar perkenan Allah limpahkan kemurahan dan kemudahan-Nya setiap saat menemani problema yang kita hadapi.
Intinya, kenikmatan Allah tak kan lari kemana jika kita mau menjaga batas-batas aturan-Nya. Menjalankan roda usaha dengan menjunjung idealitas semata-mata mengharap ridha-Nya.
Dengan itu gerakan kita cukup bebas berekspresi membangun jaringan yang sama-sama mengunggulkan cita-cita keridhaan Allah swt ketimbang mengejar target duniawi yang semakin merusak akal sehat karena seringnya jadi membabibuta. Sudah babi, buta pula. Wah tak terbayangkan sibuknya si babi yang buta karena mengejar-ngejar dunia yang tak pernah ada puasnya.
Cukuplah bagi kita apa yang diusahakan sebagai alasan di hadapan-Nya untuk mengadu, berkeluh kesah, memohon, serta meminta keridhaan-Nya. Kiranya usaha itu bisa menjadi sarana hadirnya keajaiban yang membahagiakan serta menundukkan hati akan kebenaran janji-Mu Yaa Rabb.

Wassalam
Adi bin Hadi bin Ali Masyhud
---------------------------------
Semoga bermanfaat . . .
· · Bagikan · Hapus

    • Rip Doank i like rombongnya :)
      31 Maret jam 15:09 ·
    • Imam Basuki Matur nuwun Ustadz Adi....Insya Allah bermanfaat....
      31 Maret jam 16:22 ·
    • Muhammad Abdur Rochim ‎@Rip: ya sama..q juga suka rombongnya..lebih asik lagi kalok di sampingnya di beri rombong jus...
      31 Maret jam 19:09 ·
    • Rip Doank ocim@ jus-e sek opname hehe...
      31 Maret jam 19:30 ·
    • Muhammad Abdur Rochim gak opname yok opo wong dijarno medak...
      31 Maret jam 19:32 ·
    • Rip Doank yo ngunu iku lek kakean obsesi, saiki fokus 1 tok ae... biyen2 gae pengalaman ae :)
      31 Maret jam 19:33 ·
    • Muhammad Abdur Rochim Oalah..akhire. q mudeng...kata-katamu biyen...
      pengusaha gak oleh "selingkuh" ngunua? heheh
      31 Maret jam 19:39 ·
    • Rip Doank iyo, siji untung siji rugi, akhire pek-pok :p
      31 Maret jam 19:40 ·
    • Muhammad Abdur Rochim hahah..oalah ngunua Rip seng dadi dasar petuahmu biyen??? iyo...masuk iku...! tapi nek wes usahamu seng 1 iku sukses yo dicabangno ae rip..
      31 Maret jam 19:42 ·
    • Rip Doank dicabangno iyo, bukan buka usaha lain ! :p
      31 Maret jam 19:43 ·
    • Rip Doank kan bedo cabang, karo nandur anyar :)
      31 Maret jam 19:43 ·
    • Muhammad Abdur Rochim yo..masuk iku....seng penting gak nyabrang adoh..koyok toh..warnet ambek pengetikan atau ambek kursus komputer..kan masih satu bidang profesi itungane..heheh..
      31 Maret jam 19:59 ·
    • Rip Doank iyo, lek modem karo es jus, bedo adoh hehe mangkane buyar.. tapi gawe pelajaran...
      31 Maret jam 20:04 ·
    • Muhammad Abdur Rochim iyo rip..soale..nek pas onok wong tuku jus terus ambek onok wong tuku modem...wah wong send duwe dewe bingung nguruse kok malah ngurus jus...
      loh..tapi saiki kan ente wes onok istri rip? dadine kan wes siap SDM ? ya toh?
      31 Maret jam 20:06 ·
    • Muhammad Abdur Rochim Sek Rip..btw...postinge Adi iki seng ngebek'i awak dewe tok yo?..wes nek ngunu ayo PAMIT NANG seng duwe postingan yo..mpun monggo sekecak'aken...kulo rumiyen...hehehe
      31 Maret jam 20:08 ·
    • Rip Doank istri kerja cim, ngantor :)
      31 Maret jam 21:14 ·
    • Hamluddin El Karim alhamduillah, menyejukkan hati...
      01 April jam 14:04 ·
    • Nur Adi Septanto ‎@ll: ora popo kang, mas, lik, pak dhe, mbok dhe.om tante, yang penting istilae tawashaw bil haq wa tawashaw bis shabr. . .
      03 April jam 12:28 · · 1 orang
    • Hamluddin El Karim aku suka komen ustadz yang terakhir, semakin tuma'ninah saja. semoga barakah ustadz
      04 April jam 17:58 ·

Sebuah Kisah

Sebuah Kisah

oleh Nur Adi Septanto pada 10 April 2011 jam 14:24
Mahasiswa Itu Namanya

Suatu malam saya sedang mengantri di sebuah kedai makanan asian food. Saya memilih menu Cap Cay Kuah dan Mihun Kuah Biasa untuk dibungkus. Malam itu saya ditemani putra pertama saya, Ukkaasyah.
Di kedai itu sudah ada beberapa orang yang sedang menikmati masakan. Mata saya tertuju ke sebuah benda kotak bergambar yang menampilkan sebuah acara sulap. Sesekali pandangan saya beralih ke sekeliling ruangan kedai yang dihiasi beberapa kaligrafi indah.
Beberapa saat terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan kedai. Tak berapa lama kemudian satu demi satu penumpang turun dan masuk ke kedai. Alamak. Sejumlah pemuda dan pemudi langsung mengambil tempat. Bangku kedai menjadi penuh terisi.
Ukkaasyah pun dibuat bengong dengan kehadiran para penerus bangsa itu. Kisah ini menjadi kurang menyenangkan saat gemuruh suara tawa dan canda mereka memenuhi ruang kedai yang tidak terlalu luas. Hati menjadi bergemuruh.
Muda-mudi yang sebagian masih mengenakan almamater kampusnya begitu menikmati persinggahan di kedai itu. Ada yang sibuk dengan handphone ada pula yang asyik menggandeng teman lelakinya. Demikian ‘keruh’ suasana hati saya melihat pergaulan semacam itu. Sementara mereka begitu enjoy menikmati.
Angan saya kemudian mengembara. Teringat kisah nelayan dan sejumlah mahasiswa yang kelimpungan saat melaut bersama. Kisah itu dibawakan Ustadz Hud Abdullah Musa dalam kajian rutin setiap Rabu di Masjid Manarul Islam Bangil akhir 1999 silam.
Mahasiswa lintas jurusan itu memanfaatkan momen libur di tengah Kuliah Kerja Nyata dengan menikmati keindahan laut. “Sudah siap nak?”, tanya Pak Sholeh si nelayan tua. “Wah, pak, dari tadi kita sudah siap! Bapak saja yang kelamaan utak-atik mesin”, seloroh seorang mahasiswa teknik mesin disambut tawa rekan-rekannya.
Perahu perlahan bergerak. Semua penumpang terlibat canda tawa. Hanya si nelayan tua yang memandangi langit seolah memerhatikan gerak-gerik awan yang kian menebal.
“Eh, pak. Bapak sudah usia berapa?”, tanya mahasiswa jurusan statistik. “Saya sudah 60 tahun”, jawabnya ringkas. “Selama ini bapak kerja di laut?”, lanjutnya. “Ya, saya sejak kecil memang sering diajak melaut orang tua. Jadi kemampuan saya, insya Allah di sini”, katanya dengan merendah.
“Bapak tahu internet?”, goda salah seorang dari mereka. “Maaf. Itu apa ya? Saya tidak tahu.”, katanya. “Bapak tau teori trias politica?”, tanya yang lain. Lagi-lagi si bapak menjawab dengan kepolosannya bahwa ia tidak tahu. Pak tua itu menjadi cibiran dan bahan tertawaan para pemuda berotak ‘tanggung’ itu.
Semakin giranglah para mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan teoritis yang diajukan mereka. Mulai rumus phytagoras, fisika, kimia, dan sederet istilah teoritis yang ada di bangku sekolah.
Mulailah problem terjadi. Mesin mati mendadak. Sang mahasiswa jurusan teknik mesin kebingungan. Mesin yang dipelajari di kampus sangat berbeda. Mesin tua ini sudah bongkar pasang dan dengan penggantian onderdil yang seadanya. Diakal-akali sendiri oleh pak tua. Akhirnya sang mahasiswa angkat tangan.
Mesin tetap mati. Terombang-ambing di tengah laut menjadi peristiwa yang tidak lucu bagi mereka. Satu per satu meulai meraskan kepanikan. Hingga puncaknyadebur ombak semakin membesar, angin bertiup cukup kencang, disertai hujan dan petir yang menyambar.
Suasana menjadi mencekam. Wajah mereka pucat padam. Raut mukanya menandakan ketakutan yang begitu mendalam. “Pak, bagaimana ini pak!”, seru salah seorang dari mereka. “Lakukan sesuatu untuk kami pak!”, sambung yang lain. “Ayo pak jangan diam saja!”, ketus seorang yang lain.
Bagi Pak tua, suasana ini sudah seriang ia hadapi. Ia tidak begitu khawatir sepanjang kondisi perahu dapat dikendalikan. Seraya ia berseru, “Mana internetmu! Panggil agar bisa menolong keadaan ini!. Mana trias politica yagn kalian sebut tadi! Mana fisika dan kimia itu! Mana! Panggil mereka semua untuk menyelesaikan masalah ini!”.
Semua terdiam bersamaan dengan diamnya ombak dan angin kencang sesaat itu. Hujan gerimis mengiringi kata-kata pak tua. Dalam diam mereka semua menjadi mengerti. Semua mendapat pelajaran berharga.

Demikian kisah yang dibawakan Ustadz Hud Abdullah Musa 12 tahun yang lalu. Kebetulan dahulu sahabat saya Rahmatullah Marzuki (Sinjai, Sulsel) rajin merekam kajian beliau. Pada tahun 2001 saya menyalinnya dalam bentuk ketikan manual. Dan tahun 2002 saya konversi menjadi format mp3.
Nah, saya khawatir sejumlah mahasiswa yang saya temui disela antrian kedai asian food itu adalah sosok mahasiswa yang diceritakan ustadz Hud AM. Semoga kita terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat. Amien. Semua saja terimakasih. Jazakumullah.
Akhukum fillah.
Adi bin Hadi bin Ali Masyhud
· · Bagikan · Hapus

Pak Bu, Mohon Doa Restu

Pak Bu, Mohon Doa Restu

oleh Nur Adi Septanto pada 16 April 2011 jam 17:03
Pagi indah bisa dirasakan semua orang. Tentu lazimnya umat Islam, keindahan itu terukur saat kesempatan berpagi-pagi sanggup dilewati dengan munajat sepenuh hati. Wah, alangkah nikmatnya pagi itu. Lalu istighfar dan mengucap beragam kesyukuran yang singgah di pagi itu.
Dengan senyum dan penuh semangat (senyumangat) pagi diawali dengan mengingat Allah ta'ala (Yang Maha Tinggi). Karena memang tidak ada satu pun yang mampu menandingi ketinggian-Nya. Dengan semanggi alias semangat tinggi pagi juga diawali dengan berbagi. Berbagi tugas dan kewajiban, berbagi kesempatan dan kesehatan, dan berbagi apapun yang mampu kita lakukan.
Dan intinya, berpagi, bersore, bermalam, dan beristirahat selalu dalam usaha menggapai ridha-Nya. Tak ada yang melegakan jiwa saat kita tahu bahwa Allah SWt ridha dengan amalan kita. Lalu dari mana kita mengetahuinya? Wallahu a'lam. Allah yang maha tahu. Hanyalah secuil tanda yang bisa kita rasakan saat ridha-Nya benar-benar wujud dalam amal kita. Adanya keridhaan orang tua adalah sebagian tanda keridhaan-Nya. Temui orang tuamu, teleponlah, kirimi sms, atau surat, sampaikan apa rencanamu dan mintalah doa restu keduanya. Bilakah mereka telah tiada? Carilah orang-orang dekatnya, adik atau kakaknya, serta karib kerabat dan sejawatnya . . . Semoga temukan kebaikan pada mereka. amien.
· · Bagikan · Hapus

    • Imam Basuki Intinya adalah sillaturrachmi....^_^
      16 April jam 19:28 ·
    • Djaini Ibn Ba'ah Lewat doa, manusia yang percaya,mereka akan kembali mendapatkan nafas hidupnya. Tanpa doa batin hidup manusia mungkin telah mengalami kematian. Doa adalah pengakuan bahwa kita memerlukan pertolongan di luar batas kemampuan kita sendiri. Doa jg merupakan jembatan pernyataan terima kasih dan syukur kita kepada Allah ta'ala, atas apapun yg dianugrahkan kpd kita, baik kesenangan ataupun kesedihan.
      17 April jam 7:08 ·
    • Mia Zuhara Do'akan ya, sdg diberikan amanah pregnant 2bln, semoga sehat terus:) makasih mas adi atas tulisan indahnya, salam utk mbak dida..
      17 April jam 8:36 ·

Guru Produktif

Guru Produktif

oleh Nur Adi Septanto pada 27 April 2011 jam 0:23
Jadi Guru Produktif
Guru, Dosen, Ustadz, Tutor, Trainner, dan lainnya memiliki kesempatan luas untuk berbagi dengan sesama. Utamanya berbagi ilmu. Perjumpaan langsung dengan orang lain yang terstruktur dalam ikatan pendidik dan peserta didik. Inilah “ruang bebas” guru dalam mengekspresikan segala kemampuannya. Sebagai wujud dedikasi manusia terdidik untuk mempersiapkan generasi selanjutnya.
Karena itu, seorang guru mengharuskan produktifitas tinggi sebagai karakter pribadinya. Jiwanya terus menerus menambah ilmu. Melewatkan waktunya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Selalu ingin melakukan hal yang memiliki manfaat tinggi. Membuang tindakan yang sia-sia. Yakin bahwa usaha kebaikan pasti berbuah kebaikan.
Berikut ini catatan kecil rumus ‘at’ agar guru semakin produktif.
Tepat. Menetapkan tujuan bagi setiap kegiatan. Tujuanpun sangat ditekankan untuk menuliskannya dalam catatan yang rapi. Ada tujuan saja, terkadang melenceng. Apalagi tanpa tujuan yang tersusun dengan jelas. Lakukan pertimbangan dan evaluasi. Dengan itu langkah yang dilakukan dapat terukur tepat sasaran atau belum. Ingat, anda berhadapan dengan manusia dengan berjuta pikiran.
Cepat. Peganglah prinsip “in time” (hadir sebelum waktu) bukan sekadar “on time” (hadir tepat waktu). Dahului murid anda. Jangan mau tertinggal dalam melakukan kebaikan. Artinya, anda melakukan sebuah keteladanan. Wujudkan prinsip on time  itu dalam semua kegiatan. Selain itu ingat pesan bijak, “Jika kau berada di pagi hari, jangan tunggu datangnya sore. Dan jika kau berada di sore hari jangan menanti datangnya pagi”. Atau ungkapan Benjamin Franklin, “Don’t put of  till tomorrow if you can do today”.
Rapat. Sesama guru ada ikatan komunikasi yang utuh. Adakan dialog-dialog kecil untuk mengurai ketegangan pasca mengajar. Saling tukar informasi dan berbagi pengalaman ketika menghadapi para siswa. Bukan saja dalam media formal, rapat kecil ketika sama-sama mengantri wudhu pun bisa dilakukan. Juga menjalin keakraban dengan siswa sesuai kadar kedudukannya di ranah pendidikan.
Hebat. Jadilah guru hebat. Pertama, lakukan kegiatan anda dengan kerja keras. Bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik bagi siswa anda. Kedua, kerjakan dengan cerdas agar tidak terjadi penumpukan materi. Penumpukan materi biasanya terjadi karena kurangnya persiapan. Ketika persiapan minim, situasi kelas berpeluang besar tidak terkendali. Akibat langsung yang dirasakan adalah materi tak kunjung tersampaikan dengan utuh. Ketiga, kerjakan dengan ikhlas. Maka jadilah guru hebat yang membuat siswa anda lebih hebat.
Lompat. Guru yang berani melakukan hal-hal baru. Guru yang menemukan cara-cara baru dalam menjelaskan sesuatu. Jika yang lain hanya jalan biasa, anda berani melompat. Lompatan kreativitas itu dituangkan dalam alat media pembelajaran. Bisa juga dalam metode penyampaian materi. Saat guru sejarah menerangkan kisah heroik Panglima Besar Jendral Soedirman, berdandanlah a la Pak Dirman (sapaan akrab Sang Jendral). Siswa pasti terkesan!. Guru lain berjalan selangkah, anda bisa tigakalinya.
Kuat. Jadi guru harus kuat. Kekuatan yang dimiliki guru baik fisik maupun mental harus prima. Adakah guru yang lemah? Jika ada, mulailah dengan kekuatan niat. Setiap hendak mengajar, ingatkan bahwa niat yang diemban adalah amanah, tanggungjawab pendidik, dan ladang kebajikan. Lalu, kuat fisiknya membuat anda enerjik. Sebaliknya, fisik lemah akibatnya anda malas. Siswa cukup diberi tugas, dan anda pun santai di kantor ngobrol ngalor-ngidul. Mental kuat, tidak mudah menyerah, dan yakin bahwa segala masalah pasti ada solusinya. Hal ini juga cerminan ilmu yang kuat.
Semangat. Semangatnya bagai api tak kunjung padam. Tetap menyala walau didera angin dan hujan. Dengan bersemangat maka anda telah merangsang orang-orang di sekitar anda dengan energi positif. Energi positif yang anda keluarkan dalam bentuk sikap, perbuatan, maupun ucapan akan kembali kepada anda sendiri sebagai kebaikan.
Ketika anda berbuat baik maka teladan kebaikan sudah anda lakukan. Di manapun, kapan pun, anda tetap mengeluarkan energi positif. Seumur hidup anda, jangan pernah mengeluarkan energi negatif. Tularkan kebaikan, anda pun akan mendapat kebaikan. Ibarat anda penjual minyak wangi, maka sekitar anda pun ikut merasakan wewangian itu.
Semangat yang anda pegang terus menerus akan mendongkrak lingkungan ikut bersemangat. Di tengah siswa anda bersemangat. Di dalam rumah juga tetap semangat. Semangat yang terbangun dalam diri dilambangkan dengan sabar ketika berhadapan dengan ujian, cobaan, atau permasalahan berat lainnya. Juga munculnya sikap syukur yang tiada hentinya ketika keberhasilan telah diraih dengan gemilang.
Catat. Jangan lupa pena dan kertas. Ketajaman pikiran yang anda miliki segera dituangkan dalam tulisan. Atau ide-ide gemilang yang tiba-tiba muncul saat santai, segera catat. Mungkin pula dalam obrolan ringan antar guru, muncul gagasan baru, lakukan tugas tangan anda untuk menuliskannya. Tidak perlu panjang lebar. Ikatkan dengan kata kunci. Lain waktu anda membacanya kembali, akan mudah mengingatnya.
Tradisi mencatat hal-hal penting yang terus menerus dilakukan akan terasa ringan. Harapannya, ide dan gagasan yang muncul spontanitas itu bisa berkembang menjadi mercusuar. Mampu menarik perhatian banyak kalangan. Walaupun nampak remeh ketika dilakukan, tapi kalau istiqomah alias kontinyu dalam kurun setahun anda sudah bisa membuat – minimal – satu buku kumpulan ide dan gagasan.
Guru produktif yang semakin produktif tentu tidak pernah meninggalkan kegiatan tulis menulis. Dedikasinya di dunia pendidikan terus dikembangkan melalui berbagai media. Dan media yang bisa dijangkau banyak lapisan masyarakat salah satunya lewat tulisan. Pada saat bersamaan karya anda bisa dibaca ribuan orang, bahkan jutaan. Apalagi tulisan anda menyebar dan terus dibaca generasi pelanjut. Terus turun temurun ide anda dibaca, dikaji, diikuti, diterapkan, dievaluasi, dan seterusnya. Luar biasanya, hal ringan yang anda lakukan ternyata mampu menggelinding dan membesar seperti bola salju. Akan banyak orang yang merasakan manfaat tulisan dan karya anda. Selamat berkarya dan marilah menjadi guru produktif.
· · Bagikan · Hapus

Belajar Itu Menyenangkan

Belajar Itu Menyenangkan

oleh Nur Adi Septanto pada 04 Mei 2011 jam 22:44
Suasana menyenangkan di kelas punya arti penting. Baik guru maupun siswa sama-sama menikmati suasana belajar dengan nyaman. Daya serap siswa tambah kuat, gurunya makin semangat. Ini baru hebat.
Menciptakan atmosfer belajar yang menyenangkan bukan perkara sulit. Membuat siswa nyaman belajar juga bukan urusan yang mahal. Namun hal ini bisa menjadi sulit dan mahal kalau kita keliru bersikap.
Sulit biasanya karena membayangkan betapa ruwetnya mengelola kelas. Mungkin juga karena kurang percaya diri. Mahalnya peralatan edukatif yang berkualitas membuat guru surut dan pesimis. Seolah tidak bisa bersaing dengan sekolah lain yang ‘mahal-mahal’.  
Untuk itulah catatan kecil ini mencoba memberikan alternatif bagaimana cara agar siswa belajar menyenangkan.
Andalah Magnet Terkuat di Kelas
Siapkan diri anda agar selalu menarik untuk diperhatikan. Iklim yang menyenangkan sedang anda rancang untuk kebutuhan pembelajaran. Anda menginginkan suasana fun – senang – dapat dirasakan semua siswa. Untuk mengarah ke sana dalam buku The Learners’ Way Anne Forester dan Margaret Reinhard menekankan pentingnya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan.
Mendatangkan tamu mengejutkan, tokoh, benda aneh, studi lapangan, program spontanitas, penelitian yang diusulkan anak-anak sendiri, diskusi, membaca, menulis, menggambar, merupakan bagian variasi yang perlu diperhatikan. Bermain peran, pementasan boneka jari, wayang, juga bisa menjadi pilihan.
Ruang kelas anda akan hidup, jarang sepi mati. Kebersamaan dan interaksi adalah komponen vital dari iklim menyenangkan. Penemuan, pembelajaran variatif, gaya baru, dan kegairahan mencapai prestasi menuntut ekspresi yang meyakinkan. Dan saatnya anda meyakinkan mereka.
Jika iklim keasyikan tersebut mampu anda hadirkan begitu memasuki ruang kelas yang telah direncanakan dengan baik inilah langkah awal belajar yang efektif. Demikian menurut Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos dalam The Learning Revolution.
Kartu Plus dan Kartu Minus
Agar siswa semakin bersemangat dalam mengikuti pelajaran anda, buatlah kartu plus dan kartu minus. Dua kartu yang berbeda ini dibuat dengan kertas yang cukup keras, agar tahan lama. Siapkan dalam jumlah yang agak banyak.
Kartu plus bisa diberi tulisan dan gambar yang relevan dengan lambang sebuah prestasi. Mungkin gambar bintang dengan warna warni yang cerah. Atau kata-kata ekspresif, seperti “Luar Biasa!”, Hebat!, “Bravo”, “Sukses!”, dan sebagainya. Kartu plus diberikan atas dasar prestasi di kelas. Semakin banyak prestasinya, maka kartu plus yang dikumpulkan siswa yang bersangkutan juga semakin banyak. Di akhir semester anda telah menyiapkan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Sebaliknya kartu minus buatlah dengan warna gelap. Berisi gambar yang tidak jelas atau pesan moral lainnya. Seperti, “Malas pangkal bodoh”, “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah”, dan sebagainya.
Kartu minus diberikan karena tidak disiplin, malas, tidak memperhatikan, mengganggu, cenderung mengabaikan perintah, dan sulit diajak kerjasama. Berikan kepada siswa yang bersangkutan kartu minus itu. Dan mintalah agar selalu di bawa saat pelajaran. Tujuannya agar ia sadar dan waspada untuk tidak mengulangi kesalahannya.
Manfaat kartu plus minus ini juga sebagai alat kompetisi positif. Persaingan yang jujur. Harapannya, kehadiran pelajaran anda pun selalu dinanti. Semangat mengikuti pelajaran juga meningkat. Apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar juga kian aktif.
Tentu kendala-kendala kecil bisa saja muncul. Seperti siswa berkartu minus lupa membawa kartu minusnya. Sobek dan hilang juga bisa menjadi alasan. Dan anda pun dituntut lebih kreatif dalam bersikap. Anda pun memiliki catatan siapa saja yang mendapat kartu plus dan minus. Sehingga arsip yang anda pegang sebagai langakah antisipasi mampu menjadi bukti kuat.
Memecah Kebekuan
Anda ingin suasana di kelas kondusif. Anda juga ingin proses kegiatan belajar mengajar fokus. Tidak banyak kegaduhan. Sementara yang terjadi adalah suasana tegang, kaku, dan kurang akrab. Saatnya anda melakukan ice breaking, yaitu memecah kebekuan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar suasana di kelas lebih cair. Dengan cairnya suasana tentu siswa tidak merasakan adanya tekanan. Kondisi tertekan bisa timbul dari sikap terlampau serius. Akibat pertama adalah siswa takut bertanya. Padahal banyak hal yang belum dipahami dengan baik.
Bagaimana membuat ice breaking? Anda bisa menggunakan yel-yel sederhana. Anda contohkan, jika anda mengatakan, “Apa kabar hari ini?” para siswa diminta menjawab dengan lantang kalimat, “Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!”. Yel-yel tersebut bisa dengan mudah dibuat oleh guru ataupun siswa itu sendiri. Setelah dua-tiga kali menyuarakan yel-yel itu, anda bisa melanjutkan kembali materi pelajaran.
Memecah kebekuan di kelas bisa juga dilakukan dengan aktivitas fisik. Mungkin dengan senam kecil atau sekadar relaksasi berdiri dan duduk kembali. Guru jadi lebih kreatif dalam menyiasati kebekuan di kelas. Atau anda bisa sedikit bercerita perjuangan pahlawan, pejabat, atau orang-orang sukses yang dapat memotivasi siswa.
 Mereka telah melakukan dan hasilnya . . .
Di negeri ini mulai banyak yang merasakan pentingnya belajar menyenangkan. Lembaga pemerintahan, swasta, perusahaan, juga semakin perhatian terhadap persoalan sumber daya  manusia yang butuh peningkatan. Karena itu tidak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan berani menganggarkan 20 miliar rupiah setahun untuk mendidik karyawannya melalui training yang menyenangkan.
Di negeri ini sudah banyak lembaga yang mencurahkan perhatiannya kepada persoalan ini. Karena itu, bukan persoalan sulit untuk belajar bagaimana belajar. Dan bagaimana pula agar belajar selalu menyenangkan.
Di negara maju, para guru meraih gelar master pendidikan dalam dua semester. Diantara teknik yang mereka terapkan adalah suggestopedia, pemrograman  neuro linguistik dan sistem belajar cepat terpadu. Ketiga istilah itu memiliki kesamaan sifat yaitu menyenangkan, cepat, dan memuaskan. Mereka juga selalu menghadirkan relaksasi, aksi, stimulasi, emosi, dan kegembiraan.
Hampir seluruh Sekolah Dasar di Selandia Baru menggunakan teka-teki dan permainan warna yang menyenangkan dalam mempelajari matematika. Dan pakar psikologi pernah membuat kesimpulan penting bahwa untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, maka kita harus melihat, mendengar, dan merasakan.
· · Bagikan · Hapus