Sabtu, 02 Juli 2011

Belajar Itu Menyenangkan

Belajar Itu Menyenangkan

oleh Nur Adi Septanto pada 04 Mei 2011 jam 22:44
Suasana menyenangkan di kelas punya arti penting. Baik guru maupun siswa sama-sama menikmati suasana belajar dengan nyaman. Daya serap siswa tambah kuat, gurunya makin semangat. Ini baru hebat.
Menciptakan atmosfer belajar yang menyenangkan bukan perkara sulit. Membuat siswa nyaman belajar juga bukan urusan yang mahal. Namun hal ini bisa menjadi sulit dan mahal kalau kita keliru bersikap.
Sulit biasanya karena membayangkan betapa ruwetnya mengelola kelas. Mungkin juga karena kurang percaya diri. Mahalnya peralatan edukatif yang berkualitas membuat guru surut dan pesimis. Seolah tidak bisa bersaing dengan sekolah lain yang ‘mahal-mahal’.  
Untuk itulah catatan kecil ini mencoba memberikan alternatif bagaimana cara agar siswa belajar menyenangkan.
Andalah Magnet Terkuat di Kelas
Siapkan diri anda agar selalu menarik untuk diperhatikan. Iklim yang menyenangkan sedang anda rancang untuk kebutuhan pembelajaran. Anda menginginkan suasana fun – senang – dapat dirasakan semua siswa. Untuk mengarah ke sana dalam buku The Learners’ Way Anne Forester dan Margaret Reinhard menekankan pentingnya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan.
Mendatangkan tamu mengejutkan, tokoh, benda aneh, studi lapangan, program spontanitas, penelitian yang diusulkan anak-anak sendiri, diskusi, membaca, menulis, menggambar, merupakan bagian variasi yang perlu diperhatikan. Bermain peran, pementasan boneka jari, wayang, juga bisa menjadi pilihan.
Ruang kelas anda akan hidup, jarang sepi mati. Kebersamaan dan interaksi adalah komponen vital dari iklim menyenangkan. Penemuan, pembelajaran variatif, gaya baru, dan kegairahan mencapai prestasi menuntut ekspresi yang meyakinkan. Dan saatnya anda meyakinkan mereka.
Jika iklim keasyikan tersebut mampu anda hadirkan begitu memasuki ruang kelas yang telah direncanakan dengan baik inilah langkah awal belajar yang efektif. Demikian menurut Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos dalam The Learning Revolution.
Kartu Plus dan Kartu Minus
Agar siswa semakin bersemangat dalam mengikuti pelajaran anda, buatlah kartu plus dan kartu minus. Dua kartu yang berbeda ini dibuat dengan kertas yang cukup keras, agar tahan lama. Siapkan dalam jumlah yang agak banyak.
Kartu plus bisa diberi tulisan dan gambar yang relevan dengan lambang sebuah prestasi. Mungkin gambar bintang dengan warna warni yang cerah. Atau kata-kata ekspresif, seperti “Luar Biasa!”, Hebat!, “Bravo”, “Sukses!”, dan sebagainya. Kartu plus diberikan atas dasar prestasi di kelas. Semakin banyak prestasinya, maka kartu plus yang dikumpulkan siswa yang bersangkutan juga semakin banyak. Di akhir semester anda telah menyiapkan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Sebaliknya kartu minus buatlah dengan warna gelap. Berisi gambar yang tidak jelas atau pesan moral lainnya. Seperti, “Malas pangkal bodoh”, “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah”, dan sebagainya.
Kartu minus diberikan karena tidak disiplin, malas, tidak memperhatikan, mengganggu, cenderung mengabaikan perintah, dan sulit diajak kerjasama. Berikan kepada siswa yang bersangkutan kartu minus itu. Dan mintalah agar selalu di bawa saat pelajaran. Tujuannya agar ia sadar dan waspada untuk tidak mengulangi kesalahannya.
Manfaat kartu plus minus ini juga sebagai alat kompetisi positif. Persaingan yang jujur. Harapannya, kehadiran pelajaran anda pun selalu dinanti. Semangat mengikuti pelajaran juga meningkat. Apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar juga kian aktif.
Tentu kendala-kendala kecil bisa saja muncul. Seperti siswa berkartu minus lupa membawa kartu minusnya. Sobek dan hilang juga bisa menjadi alasan. Dan anda pun dituntut lebih kreatif dalam bersikap. Anda pun memiliki catatan siapa saja yang mendapat kartu plus dan minus. Sehingga arsip yang anda pegang sebagai langakah antisipasi mampu menjadi bukti kuat.
Memecah Kebekuan
Anda ingin suasana di kelas kondusif. Anda juga ingin proses kegiatan belajar mengajar fokus. Tidak banyak kegaduhan. Sementara yang terjadi adalah suasana tegang, kaku, dan kurang akrab. Saatnya anda melakukan ice breaking, yaitu memecah kebekuan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar suasana di kelas lebih cair. Dengan cairnya suasana tentu siswa tidak merasakan adanya tekanan. Kondisi tertekan bisa timbul dari sikap terlampau serius. Akibat pertama adalah siswa takut bertanya. Padahal banyak hal yang belum dipahami dengan baik.
Bagaimana membuat ice breaking? Anda bisa menggunakan yel-yel sederhana. Anda contohkan, jika anda mengatakan, “Apa kabar hari ini?” para siswa diminta menjawab dengan lantang kalimat, “Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!”. Yel-yel tersebut bisa dengan mudah dibuat oleh guru ataupun siswa itu sendiri. Setelah dua-tiga kali menyuarakan yel-yel itu, anda bisa melanjutkan kembali materi pelajaran.
Memecah kebekuan di kelas bisa juga dilakukan dengan aktivitas fisik. Mungkin dengan senam kecil atau sekadar relaksasi berdiri dan duduk kembali. Guru jadi lebih kreatif dalam menyiasati kebekuan di kelas. Atau anda bisa sedikit bercerita perjuangan pahlawan, pejabat, atau orang-orang sukses yang dapat memotivasi siswa.
 Mereka telah melakukan dan hasilnya . . .
Di negeri ini mulai banyak yang merasakan pentingnya belajar menyenangkan. Lembaga pemerintahan, swasta, perusahaan, juga semakin perhatian terhadap persoalan sumber daya  manusia yang butuh peningkatan. Karena itu tidak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan berani menganggarkan 20 miliar rupiah setahun untuk mendidik karyawannya melalui training yang menyenangkan.
Di negeri ini sudah banyak lembaga yang mencurahkan perhatiannya kepada persoalan ini. Karena itu, bukan persoalan sulit untuk belajar bagaimana belajar. Dan bagaimana pula agar belajar selalu menyenangkan.
Di negara maju, para guru meraih gelar master pendidikan dalam dua semester. Diantara teknik yang mereka terapkan adalah suggestopedia, pemrograman  neuro linguistik dan sistem belajar cepat terpadu. Ketiga istilah itu memiliki kesamaan sifat yaitu menyenangkan, cepat, dan memuaskan. Mereka juga selalu menghadirkan relaksasi, aksi, stimulasi, emosi, dan kegembiraan.
Hampir seluruh Sekolah Dasar di Selandia Baru menggunakan teka-teki dan permainan warna yang menyenangkan dalam mempelajari matematika. Dan pakar psikologi pernah membuat kesimpulan penting bahwa untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, maka kita harus melihat, mendengar, dan merasakan.
· · Bagikan · Hapus

Pekerjaan

Pekerjaan

oleh Nur Adi Septanto pada 08 Mei 2011 jam 14:31
Di bumi ini ada berapa jenis pekerjaan? Saya hanya berpikir bahwa jenis pekerjaan itu hanya ada 2 saja. Pertama pekerjaan yang halal dan yang kedua sudah pasti pekerjaan yang haram. Pembagian ini tidak mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan syubhat. Karena pada hakikatnya yang syubhat itu lebih meyakinkan untuk ditinggal. Maka tidak perlu lagi ada pembagian pekerjaan yang syubhat.
Ngomongin pekerjaan saya usulkan kepada sejumlah sahabat saya yang mumtaz. Bahwa ide-ide segar tentang dunia kemandirian terlalu banyak yang belum dikerjakan. Sebab hampir pekerjaan-pekerjaan itu selalu berulang-ulang. Dahulu ada tukang besi. Sekarang juga ada pabrik besi. Dahulu orang berdagang, sekarang pun semakin banyak enterpreneur. Dulu ada orang berguru kepada maha gurunya, sekarang mahasiswa belajar kepada Pak Dosen.
Tinggal sikap apa yang membuat kita unggul. Salah satunya adalah konsisten. Hal ini meliputi banyak aspek. Orang konsisten dengan kegiatannya tentu memikirkan perbaikan, kemajuan, peningkatan, inovasi, dan pasti dinamis. Maka lakukan pekerjaan kita dengan penuh konsisten. Supaya kita memiliki tingkat khusus dibanding dengan orang lain yang memiliki pekerjaan sama dengan kita.

koneksi dunia hati, pikiran, dan kenyataan

Koneksi Dunia Hati, Pikiran, dan Kenyataan

oleh Nur Adi Septanto pada 15 Mei 2011 jam 16:20
Hubungan dan membangun hubungan begitu indah dijalani. Hari-hari yang berkesan membuat hidup tidak mengenal kata bosan. Seolah bahagia tertawa dan suka cita terus menerus dirasa tak akan sirna. Hati begitu gembira menentukan langkah yang disuka dan sesuai rencana. Begitu menyenangkan hiruk-pikuk yang dijalani seolah tak pernah ada batas dan tepi. Ujung hari ibarat penggalan waktu sejenak yang tak terlalu penting. Karena esok hari masih yakin bertemu hari.

Sekarang ini jantung masih berdegup dengan normal. Tidak ada gangguan yang berarti. Batuk sekadarnya dan hidung tersumbat adalah gangguan ringan yang sering tak terhitung sebagai kondisi sakit. Meski sejatinya mengganggu aktivitas. Saya menghitung sejumlah peristiwa yang sering meluluhkan semangat karena adanya persoalan koneksi yang tidak lancar antara hati, pikiran dan kenyataan.

Sebut saja 'A' misalnya yang menghiasi hari-hari 'B' dengan senyum dan tawa yang ceria. Pada titik tertentu keikhlasan itu lahir untuk sebuah hubungan lillah, karena Allah SWT. Begitu dunia hati terhubung dengan kesalahan niat, pangkal masalah menjadi serius. Hati tidak mampu menerjemahkan arti ketulusan dan nafsu manusiawi. Hubungan yang terbangun dengan koneksi timpang menjadikan sakit dalam hati.

Kenyataan sebuah hubungan antar manusia sering terjadi kesalahan koneksi hati, pikiran, dan kenyataan. Ketiganya sering dijadikan sasaran lemparan amarah yang salah sasaran. Menyudutkan hati yang tak mampu menata hati. Mempersoalkan pikiran  yang jauh dari sikap kedewasaan. Memperkeruh suasana karena tak kuasa menerima segala keputusan Tuhan (takdir).

Maka, koneksikan hatimu, pikiranmu, dan kenyataanmu memang semata-mata mengharap ridha-Nya. Setiap hari kau ingatkan jiwa yang sakit itu dengan menghadapkan segala bentuk tujuan karena-Nya. Bukan karena kenikmatan hati, ketenangan jiwa, kesejukan pandangan, atau materi duniawi. Karena sesungguhnya semua bersumber dari keridhaan Allah SWT.

Nikmat hati, sejuk jiwa, tenang usaha, meraih prestasi, mendapat kebaikan, harta yang cukup, keluarga yang tentram, istri shalihah, suami shalih, anak-anak yang berbakti, semua dikarenakan Allah SWT ridha dengan apa yang kita lakukan, dan kita pun ridha dengan segala keputusan-Nya.

Alangkah nikmatnya koneksi dunia hati, pikiran, dan kenyataan . . .
Semoga kau memahami ini . . .

Untuk sahabat-sahabat terbaik saya . . .
Jazakumullah
Faidza faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab
· · Bagikan · Hapus

    • Qonitha Rizal ‎:')
      15 Mei jam 16:22 ·
    • Hayatie Fadhilah El-Haque banyak cara Allah menghibur hati hambaNya dengan mesra..
      Salah satunya dari note ust ini...
      Terima kasih ya Allah
      Jazakallah khairan, ust...:)
      15 Mei jam 16:24 · · 1 orang
    • Imam Basuki Wiyaakumul jazaa' ustadz.... memang bila tlah tersambung tiap koneksi yang dimiliki akan semakin memudahkan langkah menapaki berbagai hal yang mendera.... baik itu berupa suka maupun duka.... karena sejatinya semua itu adalah bentuk keridlhan_NYA pada kita dan keridlha_an kita kepada_NYA....bukan begitu?
      15 Mei jam 16:31 · · 1 orang
    • Arif de Banjarleste Mas,pak ridho pramono bapake mas topan td pagi meninggal dunia jam 10
      15 Mei jam 16:40 ·
    • Nur Adi Septanto Inna lillah wa inna ilaihi roji'un . allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' mad khalahu
      15 Mei jam 16:50 · · 1 orang
    • Nur Adi Septanto salam untuk keluarga mas Topan. kalau tidak ada halangan. Matur suwun mas Wiwit infonya.
      15 Mei jam 16:50 ·
    • Adam Bakhtiar matur suwon kang buat tag nya feel so inspired by your thought.. Jazakallah...
      15 Mei jam 21:37 ·

Hidup dengan Pura-Pura

Hidup dengan berpura-pura

oleh Nur Adi Septanto pada 15 Mei 2011 jam 16:47
Setahu saya, seorang selalu berusaha tampil sempurna di hadapan orang lain. Tak sedikitpun aib dan celanya ingin diketahui orang. Kadang semangat itulah yang membangkitkan energi manusia untuk menghidupkan profil sempurna.
Sayang, setahu saya, sikap itu masih rapuh. Rapuh karena motif yang tidak memiliki akar sandaran yang kokoh. Kerapuhan itu karena ketidakmampuan diri memilih pijakan. Semestinya pijakan itu berawal dari kerelaan mengoreksi kelemahan dan kekurangan.
Angkat dan pisahkan semua kelemahan yang ada. Sisihkan sedikit demi sedikit untuk jangka waktu perbaikan yang kontinyu. Perawatan ringan yang berkala tidak berat dan dijalani dengan penuh kenikmatan. Tidak sporadis, membabi buta, menghalang-halangi diri dengan kebaikan semu.
Sederhananya dalam sebuah kata ‘berpura-pura’ itu berat. Sangat berat. Pura-pura pandai. Ah, bagaimana ketika dihadapkan dengan soal-soal ujian? Pura-pura cinta, padahal tidak ketulungan bencinya. Pura-pura bekerja, tapi mana hasil kerjanya? Pura-pura kenyang. Pasti curi-curi kesempatan untuk mendapat jatah lebih.
Banyak kepura-puraan yang semakin memberatkan beban persoalan. Pura-pura baik. Bingung ketika kedapatan berbuat yang tidak baik. Pura-pura bisa, setengah mati mengusap keringat karena tak mampu menyelesaikan dengan segera. Pura-pura hebat, maka stress berat saat ditunggu dateline untuk sebuah kegiatan. Dan apa manfaat pura-pura? Apa kebaikan dari pura-pura? Jawab saja tidak ada. Kalau toh ada, itu juga kesenangan yang pura-pura, kebaikan yang pura-pura, kemewahan yang pura-pura, kesuksesan, keberhasilan, kepintaran, kehebatan, serta keshalihan yang pura-pura. Karena keliru menyandarkan kesempurnaan.
· · Bagikan · Hapus

    • Nur Adi Septanto Untuk sahabat-sahabat terbaik saya
      15 Mei jam 16:48 ·
    • Nur Adi Septanto Jazakumullah
      15 Mei jam 16:48 ·
    • Nur Adi Septanto Faidza faraghta fanshab
      15 Mei jam 16:48 ·
    • Nur Adi Septanto Wa Ila Rabbika farghab
      15 Mei jam 16:48 ·
    • Hayatie Fadhilah El-Haque jazakallah khairan, ust
      15 Mei jam 16:53 ·
    • Nona Nadhrah Membc n0te ini..
      Sy jdi teringat dg kta2 dosen sya..
      "jika kau tdak bisa mencintai sesuatu,mka b'pura2lah untk mencintaix..krna tanpa kau sdari p'lahan cinta i2 akan tmbh dalam hatimu"

      kl0 yg seperti ini bgaimana ust..??
      15 Mei jam 16:58 ·
    • Nur Adi Septanto ‎:) Setahu saya, kebaikan apapun tidak akan abadi jika dilandasi kepura-puraan. Sebenarnya hatinya telah cinta. Meski malu mengatakannya. Kadang keliru memaknai pura-pura dan melangkah dengan hati-hati.
      15 Mei jam 17:02 · · 1 orang
    • Tabi' Shohih Bukankah dunia memang panggung sandiwara..????
      15 Mei jam 17:04 ·
    • Nur Adi Septanto Sekiranya dunia ini dipenuhi kepura-puraan.Adakah kita berangkat menuju surga pun dengan iman yang pura-pura. Luar biasa.
      15 Mei jam 17:05 · · 2 orang
    • Aris Kurniawan Pura2 menanam padi, akan pura2 memanen padi, kalo surganya juga pura2 lebih bahaya... Sbisa mungkin apa adanya saja.. Sakdermo.. Nerima ing pandum. Urip tenang..
      15 Mei jam 19:18 · · 1 orang
    • Salsabila Ashifati Ashfa Makasì tag.nya ustad. :)
      15 Mei jam 19:26 ·
    • Riena Kriwil Arsiani Makasih pak...
      15 Mei jam 19:29 ·
    • Nur Adi Septanto ‎@ Kang Aris: Matur Suwun sudah bergabung. Kados pundi kabaripun? Sampun kondur dhateng jakarta? Napa tasih wonten Holland?
      16 Mei jam 11:32 ·
    • Fakhruddin Abdullah matursuwun..terimakasih..jazakumullah kang...!
      16 Mei jam 23:45 ·
    • Nur Adi Septanto Fakhruddin Abdullah sama-sama. ente juga kang yang memberikan pengalaman berharga.
      17 Mei jam 11:19 ·
    • Aris Kurniawan alhamdulillah sudah balik ke asal, enak hidup diluar lebih enak di dalam, kbanyakan diluar masuk angin... :P sukses usahanya kang adi..
      17 Mei jam 13:20 ·

Memaksimalkan Energi Kebaikan

Memaksimalkan Energi Kebaikan

oleh Nur Adi Septanto pada 17 Mei 2011 jam 16:56
Berangkat dari ketaatan atas ketetapan. Semangat menjalankan amanah. Episentrum kemanfaatan diri menjadi pertimbangan dalam tiap kegiatan. Membangkitkan energi kebaikan karena tuntunan dan teladan Rasul pilihan. "Sebaik-baik insan adalah mereka yang memaksimalkan diri memberikan kemanfaatan", sebuah inti hubungan.

Memaksimalkan diri memberikan kemanfaatan adalah episentrum kebaikan yang mengguncang jiwa agar tidak berhenti menggetarkan energi kebaikan. Agar setiap jengkal langkah tidak keliru arah. Saya keliru membuat visualisasi kebaikan dengan emas sebongkah. Emas sebongkah atau berbongkah bahkan segunung pun masih saja keliru. Karena memaksimalkan kebaikan itu bukan digerakkan oleh material duniawi yang kecil. Kecil sekali. Saya ingin menggambarkan kemolekan kebaikan itu disejajarkan dengan keridhaan Dzat Yang Maha Rahman. Itu saja.

Kemegahan dan keelokan apa pun tak kan pernah mengalahkan kekuatan motivasi keridhaan Allah 'Azza wa Jalla. Saya sangat merindukan hal itu. Mencintai karena Allah SWT. Membenci pun demikian. Menghormati, menyayangi, menghargai, membantu, menolong, meringankan beban, meluruskan, berbagi pengalaman, menghindari kedustaan, melangkah menuju kecintaan insan, merindukan seseorang, menemani kekasih sejati, mengubah keadaan yang lemah menjadi kuat, semua karena Allah SWT.

Memaksimalkan kebaikan karena-Nya. Karena memang episentrum kebaikan sekecil apapun akan ditunjukkan Allah SWT, sebagaimana kita maklumi dalam dua ayat terakhir surah Al-Zalzalah.
Untuk sahabat-sahabat terbaik saya.
Jazakumullah sudah memberikan ruang bersama untuk sesuatu yang bisa saya lakukan.
Allahu yubaarik fiyya wa fikum.
Faidza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab.
· · Bagikan · Hapus

Semoga Tak Terulang

Semoga Tak Terulang

oleh Nur Adi Septanto pada 03 Juni 2011 jam 13:35
Ujung Mei 2011, Sidoarjo.

Siang begitu terik. Kepenatan beragam tugas cukup menguras energi. Suara pun parau. Berat, serak, dan sedikit mendengkik (entah bahasa mana ini). Yang jelas dua hari itu saya lewati dengan cukup melelahkan.

Menjelang sore saya sudah berada di baiti jannati. Bercengkerama dengan istri terkasih, juga dua jagoan saya yang lucu-lucu. Tiba-tiba ring tone ponsel saya berdering. "Bisa datang lebih cepat? Agar bisa koordinasi dengan baik", kata seseorang di ujung telepon sana. Saya memberikan respon sesegera mungkin agar tidak terlalu membebani pikiran si penelepon.

Sedianya kami sekeluarga bersama-sama akan menghadiri resepsi pernikahan Hefzi dan Azzah. Namun amanah pembawa acara diserahkan ke saya, tentu kehadiran saya harus lebih awal dari para tamu undangan. Itu cerita panjangnya.

Cerita pendeknya, yang ini jangan sampai terulang.
Dengan suara parau itu saya memandu acara. Mempersilakan para undangan untuk bersalaman dengan manten, mendoakan, dan duduk manis. Di sela-sela kehadiran tamu, saya terus cuap-cuap mempersilakan tamu dan mengucapkan selamat datang, ahlan wa sahlan, atau sgeng rawuh.

Nah, kalimat saya begini: "Selamat datang bapak-ibu  hadirin tamu undangan. Jazakumullah atas kehadirannya. Dipersilakan untuk mengisi buku tabungan dan masuk ke dalam rumah untuk bersalaman dengan mempelai serta mendoakannya" (padahal maksud saya buku tamu undangan). dueengggg!

That's all bro.
Jazakumullah semua. Buat Zie-zie dan azzah juga Yusfi dan fatimah. barakallah!
· · Bagikan · Hapus

Bekalku

Bekalku

oleh Nur Adi Septanto pada 04 Juni 2011 jam 22:51
Malam ini langit tiba-tiba meneteskan rintik gerimis. Padahal sejak pagi hingga siang hampir tak terlihat gumpalan mendung. Siang yang terik mengharuskan saya membawa segelas air tawar ke gedung belakang "GB", istilah yang disematkan santri putri untuk aula Pesantren Persis Putri. Meski sejatinya telah diresmikan sejak 2009 gedung itu bernama Aula A. Hassan, namun lidah turun-temurun sudah kadung menikmati istilah Ge-Be. Ala kulli hal, enjoy aja.

Mudah-mudahan ini kesempatan yang baik untuk menuangkan sebagian ide saya. Khususnya untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang sebentar lagi dalam 'hitungan jari' - (pinjam update status NherRy Rhakita dua hari yang lalu) - hendak hijrah ke mana arah.

Jeda sore saya sempat menyelesaikan sejumlah agenda. Di sela kesibukan sore di rumah saya sempatkan mengedit narasi singkat. Saya masih berharap beberapa hari ke depan untuk yakin bisa membuat sesuatu yang bermakna. Saya ingin mengingatkan diri saya untuk melakukan usaha terbaik semata-mata karena Allah SWT. Powernya lebih dahsyat. Saya menduga bahwa di dalam jiwa yang lemah ini pasti ada sisipan tujuan yang rendah (duniawi) yang bisa mengganggu niat tulus karena-Nya. Maka perlu diingatkan selalu.

_______________
Itu baru mukaddimah
_______________

Sahabat-sahabat terbaik saya. Sabar dan bersyukurlah. Apa yang telah terjadi dalam proses pendidikan selalu berhadapan dengan angka-angka. Akhir dari sebuah penilaian adalah angka-angka keramat yang mungkin membahagiakan dan di pihak lain menyengsarakan. Kita tidak alergi dengan angka. Karena angka adalah simbol utnuk mewakili suatu keadaan atau yang lainnya. Angka juga bermanfaat untuk kepentingan ukuran jarak, berat, nilai, dan sebagainya.

Namun angka juga bisa mendatangkan kekejaman yang menyakitkan ketika sebuah proses pendidikan yang begitu banyak pilar penopangnya tiba-tiba diruntuhkan dengan satu angka keramat saja. Angka-angka yang tidak lebih dari simbol untuk mewakili suatu keadaan berubah menjadi palu godam yang menghancurkan proses yang telah lama dibangun. Meruntuhkan pilar semangat dan motivasi jiwa.

Mungkin ini diakibatkan oleh sejumlah sudut pandang yang tidak syumul alias komprehensif. Mendorong kemajuan selangkah tapi menarik mundur tujuh langkah. Tujuh ini bisa berarti tujuh beneran, bisa juga lebih!. Ini sangat menyakitkan. Ibarat pakaian tentara dengan motif kamuflasenya, seolah benar, ternyata salah. Seolah dedaunan rimbun, ternyata sekumpulan serdadu lengkap dengan amunisinya.

Mungkin personifikasinya terlalu jauh. tapi saya yakin ada benang merah yang dapat ditarik dengan ujung lainnya. Sekali lagi, bahwa paradigma pendidikan santri sebagai objek pendidikan perlu dikoreksi dengan bijak. Santrikah namanya, murid, pelajar, siswa, atau apalah namanya adalah subyek pendidikan. Mereka para pelaku pendidikan yang siap menerima segenap rangsangan, eksperien, dan keilmuan yang baik.

Lalu kemudian terjadi apa yang dinilai gagal oleh sebagian besar orang, tentu banyak unsur yang berperan di dalamnya. Boleh jadi unsur-unsur itu justru didominasi oleh para pendidik itu sendiri. Pendidik yang tak lagi mampu menghadirkan pengajaran yang utuh. Pendidik yang belum bisa memberikan suri teladan. Atau pendidik yang tidak gemar membaca, menambah wawasan, menerima pendapat orang lain, tidak egois, dan sederet sikap-sikap lainnya. Lalu muncullah si pendidik yang superior. Semua mesti sama dengan jalan berpikirnya. Semua tunduk dalam ruang berpikirnya. Apa memang demikian?
(a solution please!) so, comment please!

Jangan terlalu sedih jika hari ini angka-angka yang ada di lembaran hasil tes selalu mirip seekor bebek. Angka menyakitkan itu bukan kebenaran nyata. Ibarat orang yang mau mencapai seberang sungai kadang ia terperosok berulang-ulang di bibir sungai. Yang terpienting adalah sekali lagi lakukan usaha terbaik karena Allah SWT. Jangan menduakan niat dengan selain-Nya.

Kuatkan jiwa.
Untuk sahabat terbaik saya. Yakin bahwa Allah SWT pasti menolong kita sepanjang kita menjadi para penolong agama-Nya.

Rahasiakan keluh kesahmu. Agar senyummu semakin berarti!
Thanks to:
Sahabat-sahabat terbaik saya dan orang-orang yang selalu menghargai arti pentingnya pendidikan sebagai sebuah proses bukan pencapaian hasil. Saya sudah menulis nama-nama di baris ini, tapi kemudian saya hapus kembali. Karena tak mungkin saya menyebut satu demi satu. "Terlalu manis untuk dilupakan", mengambil sebaris lirik lagu yang dipopulerkan grup band slank di awal dekade 90-an..
Semoga Allah SWT mengumpulkan kita ddalam rangka kebaikan. Dan memisahkan kita pun untuk meraih kebaikan yang lebih agung.
Mestinya tulisan ini tak berakhir disini.
Tapi bagaimana mungkin. Dan memang harus diakhiri.

Faidza Faraghta fanshab
Wa ila rabbika farghab

Sahabatmu
adi
· · Bagikan · Hapus